Masalah Masalah Jahiliyah Dalam Islam: Menolak Kebenaran Dengan Alasan Batil

Pemateri : Ust. Taqiyuddin, Lc.

Ust. Taqiyuddin al-Hafidz, Lc.Alhamdulillah pada pagi hari ini kita masih merasakan nikmat-nikmat Allah Ta’ala, selayaknya kita patut bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian, kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang Permasalahan-Permasalahan Jahiliyyah.

  • Alasan Batil Dalam Menolak Kebenaran

Permasalahan pertama yang kita bahas adalah alasan mereka yang batil didalam menolak kebenaran. Perlu disadari bahwa pada dasarnya seorang mukmin yang berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, ketika mendapatkan Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara, maka tidak ada kata lain selain “kami mendengar dan kami taat.” Tidak ada suatu pilihan antara mengerjakan atau tidak. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al Ahzab: 36)

Sedangkan mereka yang terjerumus kepada perkara jahiliyyah, mereka menolak kebenaran dengan alasan yang tidak benar. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“….. Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (Al Baqarah: 77-78)

Para ulama’ memiliki beberapa tafsiran mengenai kata “Hati kami tertutup”.

Pertama, adalah ketika sampai dakwah kepada mereka alasan mereka didalam menolak kebenaran adalah hati mereka tertutup dan tidak memahami perkataan Rasul, padahal para Rasul datang dengan perkara yang sangat jelas. Kedua, hati kami telah penuh dengan ilmu, jadi sudah penuh dengan pengetahuan sehingga tidak butuh lagi ilmu, walaupun hal itu datang dari Rasul.

Kesimpulannya, makna pertama adalah bentuk dari peremehan, sedangkan yang kedua adalah kesombongan. Keduanya merupakan sebab seseorang menolak kebenaran.

Jadi pada point ini kita membahas seputar tentang kesombongan. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah bahwa hakekat kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Dari Abdullah Bin Mas’ud Radhiayallahu ’Anhu dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda:

وعن عبداللّه بن مسعود رضي اللّه عنه عن النّبىّ صلّى اللّه عليه وسلّم قال: لايدخل الجنّة من كان فى قلبه مثقال ذرّة من كبر، فقال رجل: انّ الرّجل يحبّ أن يكون ثوبه حسنا ونعله حسنة، قال: إنّ اللّه جميل يحبّ الجمال. الكبر: بطرالحقّ وغمط النّاس (رواه مسلم)٠

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR. Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu)

Pernyataan Rasulullah ini bukanlah letter lek dengan redaksi hadits. Namun beliau memberikan salah satu pengaruh kesombongan pada diri seseorang adalah meremehkan manusia dan menolak kebenaran.

Imam Al Ghazali Rahimahullahu mengatakan:

الكبر هو استعظام النفس ورؤية قدرها فوق قدر الغير

“Sombong adalah merasa besar rasa dan melihat kemampuannya melebihi kemampuan orang lain.”

Dan perlu dipahami bahwa sombong merupakan sumber dari malapetaka, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di atas. Dan kita juga mengetahui bahwa Iblis dan sebab masuknya ia ke neraka adalah sombong. Ada beberapa ayat yang menceritakan antara kisah Adam dan Iblis.

Ketika Allah Ta’ala memerintahkan kepada semua malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan kepada keagungan Allah Ta’ala. Semua malaikat mendengar dan menaati perintah itu kecuali iblis, ia tidak mau bersujud. (Tafsir Ibnu Katsir, juz 8, hal: 243)

Setelah semua malaikat mentaati perintah Allah dengan sujud menghormati Adam kecuali Iblis, maka Allah bertanya kepada Iblis, Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.

Jawaban iblis yang mengatakan:

أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ (الأعراف: 12)

“Saya lebih baik daripadanya (Adam), Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al A’raf: 12)

Alasan iblis merupakan sesuatu hal yang lebih besar daripada dosa tidak mau bersujud kepada Adam, seakan-akan iblis membangkang —tidak mau taat— karena tidak ada perintah yang menganjurkan seseorang yang memiliki keutamaan bersujud kepada orang yang lebih rendah keutamaannya daripada yang diperintah. Seakan-akan iblis la’natullah mengatakan, “Saya lebih baik daripada Adam, maka mengapa Engkau perintahkan saya untuk bersujud kepadanya?”. Bahasa jelasnya begini: “Iblis seolah-oleh menyalahkan Allah, dengan perasaan bahwa dirinya lebih mulia masa’ diperintah untuk sujud kepada yang tidak mulia, maka ini perintah yang salah”. Padahal kalau kita mengetahui bahwa Allah adalah dzat Yang Maha Besar dan Maha Sempurna, semestinya kalaupun kita tahu bahwa kita lebih mulia daripada makhluk yang kita diperintahkan untuk hormat padanya,  selagi perintah itu dari Allah, maka kita taat saja.

Kemudian iblis mengatakan: “Dikatakan dirinya lebih baik karena ia diciptakan dari api, sedangkan api itu lebih baik daripada apa yang diciptakanNya dari tanah liat”. Iblis yang terlaknat dalam alasannya mengacu kepada asal unsur kejadian, tidak mengacu kepada kemuliaan yang besar yang ada pada diri Adam. Yaitu Allah menciptakan Adam dengan tangan kekuasaanNya sendiri dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh (ciptaan)Nya.

Iblis menggunakan analogi (perbandingan) yang tidak benar, berlawanan dengan nash firman Allah Ta’ala yang mengatakan: “maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud”. (Al Hijr: 29)

Iblis memisahkan diri di antara malaikat karena tidak mau bersujud. Karena itulah maka dia terusir dari rahmat dan putus asa dari rahmat Allah Ta’ala. Iblis la’natultah keliru dalam analogi dan pengakuannya yang mengatakan bahwa api lebih mulia daripada tanah. Padahal sesungguhnya tabiat tanah liat itu ialah kuat, sabar, tenang, dan kokoh. Tanah merupakan tempat bagi tetumbuhan, pengembangan, penambahan, dan perbaikan; sedangkan api mempunyai watak membakar, liar, dan cepat. Karena itulah iblis berkhianat terhadap unsur kejadian dirinya, sedangkan Adam mendapat manfaat dari unsur kejadiannya, yaitu selalu ingat kepada Allah, kembali kepadaNya, tenang, taat dan berserah diri kepada perintah Allah Ta’ala mengakui dosa dan memohon taubat serta ampunan.

Ada suatu contoh, suatu saat seekor keledai membawa barang bawaan berupa garam. Ia melewati sebuah tempat yang berair. Ia masuk ke dalam air (berendam). Setelah beberapa menit, ia keluar dan tentunya garam yang sifatnya mencair ketika terkena air, maka ia keluar dari air tersebut dengan keadaan ringan. Lain waktu, keledai tadi melewati sebuah genangan air dan berendam disitu. Tapi barang yang dibawanya adalah kapas, maka iapun keluar dari air tersebut dengan beban yang lebih berat dari sebelumnya, karena sifat kapas adalah menyerap air bukannya meleleh. Contoh ini seperti analogi Iblis yang rusak.

Terkadang ketika kita berbicara suatu tema ilmu, misalnya berbicara tentang kesombongan, tapi ternyata hati kita melihat orang lain. Padahal seharusnya awal pertama kali yang dilakukan seseorang ketika membicarakan sebuah ilmu adalah muhasabah kepada diri sendiri, bukan melihat kepada orang lain, karena jangan-jangan kesombongan itu ada pada diri kita.

Ibnu Qudamah al Maqdisi Rahimahullahu menyebutkan bahwa tingkatan kesombongan ada tiga,

درجة الكبر ثلاث: الكبر المستقر فى القلب يرى نفسه خيرا من الغير

Pertama, kesombongan yang terletak di hati yaitu ketika melihat dirinya itu lebih baik daripada orang lain. Walaupun tidak terucap dengan bahasa lesan dan kelihatannya seseorang itu tawadhu’ tapi kalau ternyata dalam hatinya menyangka bahwa dirinya lebih baik dari orang lain, maka ia masuk ke dalam permainan syaithan.

الكبر بإظهاره فىى الأفعال: مثل ترفع فى المجالس وينكر من يقصر فى حقه

Kedua, kesombongan yang ditampakkan dalam perbuatan, seperti; menonjolkan diri di suatu majlis ilmu dan meremehkan orang yang tidak menghormatinya. Seseorang bertanya kepada seorang syaikh atau ulama’ namun bukan ingin mengobati ketidaktahuannya, tapi ingin menampakkan dirinya bahwa ia adalah seorang alim.

الكبر بإظهاره فى اللسان

Ketiga, kesombongan yang ditampakkan oleh seseorang dalam lisannya. Misalnya seorang mengatakan kepada seorang lainnya, “aku lebih mulia daripada kamu”, dan sesungguhnya tidak ada seorang yang mulia dari lainnya selain orang yang paling takwa.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat: 13)

Begitu pula sombong dengan harta, kecantikan, kekuatan, banyak pengikut dan lain sebagainya. Sombong karena harta sering terjadi pada para raja dan pedagang. Kemudian sombong karena kecantikan, sering melanda para wanita, kemudian hal itu menyebabkan mereka meremehkan temannya dan berghibah serta menyebutkan aib-aibnya. Sedangkan sombong karena jumlah pengikut yang banyak biasanya menjangkiti para raja dan ulama’. Para raja sombong dengan para tentara yang menjaga dan melindunginya, sedang para ulama’ sombong dengan banyaknya pengikut. Dan perlu disadari bahwa bangga dan sombong akan menghancurkan amal seseorang karena termasuk dari dosa besar.

Ahlussunnah wal jama’ah tidak mengkafirkan pelaku dosa besar dan pelakunya tidak kekal di neraka selama bertauhid. Berbeda dengan keyakinan khawarij yang menyatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir dan di akhirat kekal di dalam neraka. Ahlussunah wal jama’ah selalu bersikap pertengahan, namun harus berdasarkan alquran dan as sunnah.

Hukum Berkata, “Saya Mukmin Insya Allah.”

Orang yang berkata “Saya mu’min Insya Allah” dalam istilah ulama disebut masalah istitsna` (pengecualian) dalam iman. Iman adalah keyakinan yang bersifat pasti, tidak menerima keraguan, di sisi lainnya, seseorang tidak mengetahui apa yang terjadi padanya di kemudian hari, maka bolehkah seseorang berkata, “Saya mukmin insya Allah?” Mengembalikan imannya kepada kehendak Allah.

Dalam masalah ini ada tiga kelompok pendapat, dua berseberangan dan satu di tengah. Kelompok mengharuskan. Kelompok melarang. Kelompok membolehkan dengan pertimbangan dan melarang dengan pertimbangan.

1.       Kelompok yang Mengharuskan (Membolehkan)

Kelompok ini memiliki dua alasan; Pertama, Iman yang benar-benar iman adalah iman di mana seseorang mati di atasnya, manusia di sisi Allah mukmin atau kafir adalah pada saat dia mati, boleh jadi sekarang dia mukmin namun dia mati di atas kufur, sebagaimana boleh jadi sekarang dia kafir namun dia mati di atas iman. Jadi yang dianggap adalah keadaan di mana seseorang mati di atasnya dan sebelum ia tiba, tak seorang pun bisa memastikan, karenanya harus dikembalikan kepada kehendak Allah dengan ucapan, “Insya Allah.”

Kedua, Iman mutlak adalah melaksanakan segala apa yang Allah perintahkan dan menjauhi segala apa yang Allah larang, bila seseorang berkata, “Saya mukmin,” dan maksudnya adalah di atas, maka dia mengakui dirinya termasuk orang-orang beriman dengan iman yang mutlak, wali-wali Allah yang dekat kepadaNya, hal ini termasuk tazkiyah (menyucikan diri) padahal فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ , jangan mengatakan dirimu suci.” An-Najm: 32. Karena merasa suci dan kesaksian atas kesucian jiwa dengan merealisasikan keimanan dalam wujud perkataan, perbuatan dan keyakinan, maka merasa khawatir dari hal yang membahayakan ini adalah wajib.

2.       Kelompok yang Melarang

Kelompok ini beralasan bahwa mengucapkan, “Saya mukmin insya Allah.” menunjukkan keraguan dan ketidakpastian, padahal iman tidak menerima hal ini, karena Allah berfirman, “ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا , kemudian mereka tidak ragu-ragu.” Al-Hujurat: 15. Barangsiapa mengembalikan imannya kepada kehendak Allah maka dia sendiri meragukannya dan hal ini bertentangan dengan iman itu sendiri. Keraguan dalam keberadaan pokok iman adalah haram bahkan kekafiran; karena iman adalah pasti sementara keraguan berarti menafikannya.

3.       Kelompok yang Membolehkan dan Melarang

Membolehkan dengan pertimbangan dan melarang dengan pertimbangan. Bila maksud, “Saya mukmin insya Allah.” adalah keraguan dan ketidakpastian terhadap imannya maka ucapan di atas tidak boleh. Bila maksudnya adalah bahwa dia termasuk orang-orang beriman dengan iman yang sempurna, atau karena tidak mengetahui masa depan, atau karena memulangkan perkara kepada kehendak Allah bukan karena ragu, maka ucapan di atas diperbolehkan.

Kelompok akhir ini adalah kelompok tengah, paling berbahagia dengan dalil kedua kelompok sebelumnya, mengambil kebenaran pada kelompok pertama dan kebenaran pada kelompok kedua dan menyelaraskan keduanya, pendapat mereka adalah yang paling shahih. Bila seseorang ingin mengucapkan ungkapan yang tidak mengandung kesamaran tentang agama yang diyakininya, maka hendaklah dia mengatakan: “Saya muslim.” Tanpa perlu mengucapkan insya Allah dalam hal ini. Permasalahan wasathiyah ukurannya adalah berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya bukan menurut pribadi kita. Wallahu a’lam.

  • Melencengkan Dalil-Dalil Al Kitab Setelah Memahaminya Supaya Berkesesuaian Dengan Hawa Nafsunya

Kebanyakan ahli kitab telah merubah kitab mereka dan mengeluarkan fatwa-fatwa yang bertentangan dengan isi kitab mereka. Misalnya, kitab mereka mengharamkan riba, lalu mereka mengeluarkan fatwa “oh tidak, riba yang haram disini adalah riba ini”, atau babi adalah haram, tapi mereka mengeluarkan fatwa, “babi yang haram adalah babi hutan”, dan sebagainya. Pada dasarnya mereka mengetahuinya tapi dirubah agar sesuai dengan hawa nafsu. Maka intinya, salah satu penentangan seseorang terhadap syariat Allah sumbernya adalah hawa nafsu.

أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُواْ لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلاَمَ اللّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ )البقرة :75(

“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?[65]. (Al Baqarah: 75)

(65) yang dimaksud ialah nenek-moyang mereka yang menyimpan Taurat, lalu Taurat itu dirubah-rubah mereka; di antaranya sifat-sifat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang tersebut dalam Taurat itu.

Jahmiyah

Mereka merupakan para pembela pemikiran sesat Jahm bin Abu Shafwan, yang kebid’ahannya muncul di Turmudz di negeri Khurasan kemudian Jahm bin Shafwan dibunuh oleh Sulam bin Ahwaz al-Mazini penguasa Moru di akhir pemerintahan Bani Umaiyyah. Dia merupakan orang sangat pandai berdebat dan bersilat lidah, dan banyak berbicara dalam masalah yang berkaitan dengan Allah. Dia menyangka bahwa al-Qur’an adalah makhluk, Allah tidak pernah mengajak dengan Nabi Musa, dan Allah tidak pernah bicara, tidak bisa dilihat dan tidak berada di atad ‘Arsy, bahkan ia menganggap bahwa iman hanya sekedar ma’rifat kepada Allah, sementara Surga dan Neraka menurutnya mengalami kepunahan, dan perbuatan manusia dinisbatkan kepadanya secara metafora. (As-Sunnah ((988) 1/574) Karya al-Khallal)

Para ulama menyebutkan bahwa Ja’d bin Dirham merupakan pencetus dan penebar embrio pertama pemikiran Jahmiyah yang kemudian digulirkan oleh Jahm bin Shafwan, sehingga pemikiran tersebut dinisbatkan kepadanya. Menurut salah satu riwayat bahwa Ja’d mengambil pemikiran dari Aban bin Sam’an, dan Aban mengambil dari Thalut anak saudara perempuan Lubaid bin al-A’sham, seorang Yahudi yang pernah menyihir Nabi. (Lihat al-Milal wan Nihal, karya as-Sahrastani, al-Farqu baina al-Firaq oleh al-Baghdadi dan Thabaqah al-Hanabilah karya Ibnu Abu Ya’la)

Jahm bin Shafwan bisa dianggap penebar kesesatan kawakan, karena ia telah menghimpun tiga kebid’ahan yang sangat buruk dan berbahaya disamping beberapa bid’ah yang lain:

Pertama: Bid’ah Ta’thil yaitu peniadaan sifat-sifat Allah dan menyangka bahwa Allah tidak bisa disifati dengan sifat apa pun, karena pemberian sifat bisa mengakibatkan penyerupaan dengan makhluk-Nya.

Kedua: Bid’ah Jabr yaitu pernyataan bahwa manusia tidak mempunyai kemampuan dan daya upaya sama sekali bahkan semua kehendaknya muncul dalam keadaan dipaksa oleh kehendak Allah, maka ia menganggap perbuatan manusia dinisbatkan kepadanya hanya sekedar metafora.

Ketiga: Bid’ah Irja’ bahwa iman cukup hanya dengan ma’rifat, barang siapa yang inkar di lisan maka hal tersebut tidak membuatnya kafir sebab ilmu dan ma’rifat tidak bisa lenyap karena ingkar, dan keimanan tidak berkurang dan semua hamba setara dalam keimanannya serta iman dan kufur hanya dalam hati tidak dalam perbuatan.

Para ulama menanggapi dengan keras pemikiran Jahmiyah dan dianggap sebagai suatu kekufuran yang berat. Allah Ta’ala berfirman:

“Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.” (Thaha: 5)

Keyakinan ahlus sunnah wal jama’ah dalam masalah istiwa’ adalah Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya secara dzat, tapi bersama makhlukNya dengan ilmu-Nya. Istiwa’ adalah hakikat dan bukan majas. Kita bisa memahaminya dengan bahasa Arab yang dengannya wahyu diturunkan. Yang tidak kita ketahui adalah kaifiyyah (cara/bentuk) istiwa’ Allah, karena Dia tidak menjelaskannya. Ketika ditanya tentang ayat 5 Surat Thaha (الرحمن على العرش استوى), Rabi’ah bin Abdurrahman dan Malik bin Anas mengatakan:

الاِسْتِوَاءُ مَعْلُوْمٌ، وَاْلكَيْفُ مَجْهُوْلٌ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ.

“Istiwa’ itu diketahui, kaifiyyahnya tidak diketahui, dan mengimaninya wajib.” (Al-Iqtishad fil I’tiqad, Al-Ghazali)

Wajib mengimani dan menetapkan sifat istiwa’ tanpa merubah (ta’wil/tahrif) pengertiannya, juga tanpa menyerupakan (tasybih/tamtsil) sifat ini dengan sifat istiwa’ makhluk. Menafsirkan istawa (اِسْتَوَى) dengan istawla (اِسْتَوْلَى) yang artinya menguasai adalah salah satu bentuk ta’wil yang bathil. Penafsiran ini tidak dikenal di kalangan generasi awal umat Islam, tidak juga di kalangan ahli bahasa Arab. Abul Hasan Al-Asy’ari menyebutkan bahwa penafsiran ini pertama kali dimunculkan oleh orang-orang Jahmiyyah dan Mu’tazilah. Mereka ingin menafikan sifat keberadaan Allah di atas langit dengan penafsiran ini. Kita tidak menafikan sifat kekuasaan bagi Allah, tapi bukan itu arti istiwa’.

Istiwa’ Allah di atas ‘Arsy tidak berarti bahwa Allah membutuhkannya, tapi justru ‘arsy yang membutuhkan Allah seperti makhluk-makhluk yang lain. Dengan hikmah-Nya Allah menciptakan ‘Arsy untuk istiwa’ diatasnya, dan Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan apapun. Wallahu a’lam

Ayat di atas juga sebagai bantahan kepada mereka yang berpaham (wihdatul wujud/hulul) bahwa Allah bersatu dengan makhluk-Nya. Ada istilah hulul dan ittihad. Ittihad (bersatu) menurut mereka adalah menetapkan satu wujud saja. Misalnya, “tidak ada wujud di alam ini kecuali Allah”. Jadi penampakan yang ada di muka bumi ini semuanya adalah Allah. Maka dari keyakinan ini, akan tumbuh keyakinan yang keliru lagi. Karena keyakinan yang salah akan mengakibatkan munculnya keyakinan dan amalan keliru lainnya. Orang yang berpaham seperti ini akan mengatakan bahwa Fir’aun adalah orang yang paling bertauhid, karena ia mengatakan, “aku adalah rabbmu yang paling tinggi”.

Sedangkah hulul menurut mereka adalah menetapkan dua wujud, wujud Allah dan wujud makhluk. Tapi wujud Allah ini bersatu dengan makhluk. Sedangkan ayat,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (الحديد:4)

“…dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al Hadid: 4)

Para ulama’ menjelaskan bahwa maksud dari “Kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya”, adalah kebersamaan yang sifatnya “ilmu Allah”, pengetahuan Allah yang meliputi segala sesuatu.

Wallahu Ta’ala A’lam  

Leave a Reply