Menjalin Ukhuwah Islamiyah

Oleh: Ust. Ihsan Al-Madani, Lc 

ukhuwahislamiahKita sadar sebagai manusia yang lemah tidak bisa hidup sendiri di atas muka bumi ini. Siapa yang merasa bahwa dirinya tidak perlu orang lain? Kita semua saling membutuhkan satu sama lain. Dan beruntunglah kita karena Allah telah mempersaudarakan kita semata-mata atas latar belakang agama, kita bersaudara, bersahabat, menjalin hubungan karena Allah Ta’ala.

Salah satu hikmah dari persaudaraan ini adalah seseorang akan menjadi lebih sempurna. Karena ia akan memperoleh nasehat dari saudaranya. Para nabi dan Rasul bukan berarti tidak pernah berbuat salah, mereka pernah berbuat kesalahan namun Allah Ta’ala langsung menurunkan teguran dari langit berupa wahyu jika mereka melakukan kesalahan. Apalagi kita hanya sebagai manusia yang tidak ma’shum, tidak ada wahyu yang turun dari langit kepada kita jika kita berbuat salah, bisa jadi kita terus tenggelam dan hanyut dalam kesalahan. Karena itu, salah satu diantara perkara yang membuat muslim lebih sempurna adalah nasehat dari saudaranya, karena tidak mungkin mengharapkan teguran dari langit.

Seorang muslim ibarat cermin bagi saudaranya, saling menguatkan, saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, dengan itu mereka akan selamat dari kerugian.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3)

Allah Ta’ala menciptakan manusia berbeda-beda kulit, keturuanan, status sosialnya dan lain sebagainya dengan tujuan agar satu dengan lainnya saling kenal mengenal.

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kita untuk saling bersaudara satu sama lainnya, dan Allah lah yang memiliki hati manusia, maka Dia lah yang mampu untuk menyatukan hati-hati mereka.

“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah Telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal: 63)

Allah Ta’ala mempersatukan hati manusia bukan atas dasar dunia. Persaudaraan, perkumpulan atau persatuan yang dibangun atas dasar harta atau materi, pada akhirnya tidak sedikit dari mereka saling bermusuhan antara satu dengan lainnya. Persaudaraan karena Allah Ta’ala harus dijalin dengan niat yang ikhlas karena Allah Ta’ala, bukan karena latarbelakang dunia, atau karena satu golongan, suku, bahasa dan warna kulit, namun karena satu agama dan didasari atas cinta kepada Allah Ta’ala. Demikian itu agar mendapatkan keberkahan dan bernilai ibadah disisi Allah Ta’ala.

Beberapa keutamaan menjalin persaudaraan karena Allah Ta’ala:

1.   Allah Ta’ala akan menetapkan cinta-Nya bagi orang-orang yang saling mencintai karena-Nya.

Dari Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang diriwayatkan dari Rabbnya ‘Azza wa Jalla:

حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ ، وَالْمُتَحَابُّونَ فِي اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ .

Cinta kasih-Ku wajib bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku; cinta kasih-Ku wajib bagi orang-orang yang saling menasehati karena Aku; cinta kasih-Ku wajib bagi orang-orang yang bersilaturrahim karena Aku. Dan orang-orang yang saling mencintai karena Aku berada di atras mimbar-mimbar dari cahaya di bawah naungan ‘Arsy pada hari dimana tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Ahmad, no: 21052)

Kisah seorang yang mengunjungi saudaranya semata-mata karena mencintai saudaranya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا ، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ ؟ قَالَ: أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ . قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا ؟ قَالَ: لاَ غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ . قَالَ: فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ .

“Suatu hari, seseorang melakukan perjalanan untuk mengunjungi saudaranya yang tinggal di suatu kampung. Maka Allah mengutus seorang Malaikat untuk mencegat di suatu tempat di tengah-tengah perjalanannya. Ketika orang tersebut sampai di tempat tersebut, Malaikat bertanya: Hendak kemana engkau? Ia menjawab: Aku hendak mengunjungi saudaraku yang berada di kampung ini. Malaikat kembali bertanya: Apakah kamu punya kepentingan duniawi yang diharapkan darinya? Ia menjawab: Tidak, kecuali karena aku mencintainya karena Allah. Lantas Malaikat itu berkata: Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang dikirim kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah telah mencintaimu seperti engkau mencintai saudaramu.” (HR. Muslim, no: 4656)

2.      Orang yang saling mencintai karena Allah akan berada dibawah naungan ‘Arsy

Hadits 7 orang yang akan dinaungi Allah kelak diakherat dimana tidak ada naungan selain naungan Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلالِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلِّي .

“Di mana orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, maka hari ini aku akan menaungi mereka dengan naungan yang tidak ada naungan kecuali naunganku.” (HR. Muslim)

Dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْمُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِي فِي ظِلِّ عَرْشِي يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّي .

“Allah Ta’ala berfirman: Orang-orang yang saling mencintai karena Aku akan berada di bawah naungan ‘Arsy-Ku pada hari dimana tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Ku.” (HR Ahmad, no: 16532)

 3.  Kelak di hari kiamat mereka diberikan mimbar dari cahaya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن حول العرشِ مَنابِرَ من نورٍ، عليها قومٌ لِبَاسُهم نورٌ، ووجوهُهم نورٌ، ليسوا بأنبياءَ ولا شهداءَ، يَغبِطُهم النبيُّونَ والشهداءُ. فقالوا: انعَتْهم لنا يا رسول الله. قال: هم المتحابُّون في الله، والمتآخون في الله، والمُتزاوِرُون في الله .

“Sesungguhnya di sekitar arsy Allah ada mimbar-mimbar dari cahaya. Di atasnya ada kaum yang berpakaian cahaya. Wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukanlah para nabi dan bukan juga para syuhada. Dan para nabi dan syuhada cemburu pada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah.” Para sahabat bertanya, “Beritahukanlah sifat mereka wahai Rasulallah. Maka Rasul bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, bersaudara karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah.” (Hadits yang ditakhrij Al-Hafiz Al-Iraqi, ia mengatakan, para perawinya tsiqat)

4.  Allah akan mencabut rasa takut dalam hati mereka

Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ لأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنْ اللهِ تَعَالَى . قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ ؟ قَالَ: هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلاَ أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا ، فَوَاللهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لاَ يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلاَ يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ)

“Sesungguhnya dari hamba-hamba Kami ada sekelompok manusia, mereka itu bukan para Nabi dan bukan para syuhada’. Para Nabi dan syuhada’ merasa cemburu kepada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah di hari kiamat. Para sahabat bertanya: Siapakah mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai karena Allah padahal tidak ada hubungan persaudaraan (saudara sedarah) antara mereka, dan tidak ada hubungan harta (waris), Maka demi Allah sesungguhnya wajah-wajah mereka bagaikan cahaya, dan sesungguhnya mereka di atas cahaya, mereka tidak takut ketika manusia merasa takut, dan tidak pula sedih ketika manusia sedih, kemudian beliau membaca ayat ini: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [QS Yunus, 10: 62]. (HR. Abu Dawud, no: 3060)

5.  Mereka akan merasakan manisnya iman

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الإِيمَانِ ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ .

“Ada tiga golongan yang dapat merasakan manisnya iman: orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari mencintai dirinya sendiri, mencintai seseorang karena Allah, dan ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci jika ia dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari)

Karena itu raihlah keutamaan-keutamaan ini, sesungguhnya merajut persaudaraan karena Allah merupakan salah satu amal shalih dan merupakan aset berharga dalam hidup seseorang. Sebab, sahabat dan saudara yang shalih adalah rezki yang tak ternilai harganya. Mereka merupakan anugerah Allah yang wajib kita jaga. Sebab persaudaraan karena Allah merupakan nikmat yang Allah Ta’ala khususkan bagi orang-orang yang beriman.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ {الحجرات: 10}

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujurat: 10)

Kata “innama” dalam bahasa arab berfungsi sebagai ‘hasyr” pembatasan makna. Artinya, mukmin itu pasti bersaudara. Dan tidak ada persaudaraan kecuali dengan keimanan, maka setiap perkara yang merusak tali persaudaraan tersebut harus dihindari dan dijauhkan. Jika Anda melihat ada yang bersaudara bukan karena iman, maka ketahuilah itu adalah persaudaraan dusta. Tidak memiliki akar dan tidak memiliki buah. Jika Anda melihat iman tanpa persaudaraan, maka itu adalah iman yang tidak sempurna, belum mencapai derajat yang diinginkan, bahkan bisa berakhir dengan permusuhan. Allah berfirman,

الأَخِلاَّءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Zukhruf: 67)

Pekara yang bisa merusak tali persaudaraan wajib kita hindari dan jauhkan. Bahkan kita harus siap menanggung resiko dari persahabatan tersebut, karena tidak ada satu perkarapun tanpa adanya sebuah resiko, bahkan seringkali kita harus mengalah demi menjaga hubungan tersebut. Jika tidak demikian niscaya tidak ada persahabatan yang langgeng. Mungkin karena sebab sepele kita bisa memutuskan tali persahabatan, padahal belum tentu kita mendapatkan sahabat sepertinya. Kalau kita mencari sahabat tanpa cela maka sampai akhir hayat, kita tidak akan mendapatkan sahabat, kita akan hidup tanpa sahabat. Ada sebuah syair yang bisa diambil pelajaran darinya:

وكم من أخ لم تحتمل منه علة قطعت ولم يمكنك منه بديل ومن لم يرد إلا خليلا مهذبا فليس له فى العالمين خليله

Berapa banyak teman yang engkau tak mampu menerima kekurangannya, lantas engkau memutuskan hubungan dengannya padahal engkau tidak mungkin menemukan penggantinya. Barangsiapa mencari teman sempurna tanpa cacat maka tidak akan ada di dunia ini yang bisa menjadi temannya.

Kunci utama dalam membina persaudaraan karena Allah adalah istiqamah di atas ketaatan dan meninggalkan maksiyat, sebab iman dan amal shalih adalah sebab Allah mencintai seorang hamba. Dan jika Allah telah mencintai seorang hamba, maka ditulis baginya penerimaan yang baik di tengah-tengah manusia.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ ، قَالَ: فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ . ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ: إِنَّ اللهِ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ . قَالَ: ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الأَرْضِ . وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ: إِنِّي أُبْغِضُ فُلاَنًا فَأَبْغِضْهُ ، قَالَ: فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ . ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ فُلاَنًا فَأَبْغِضُوهُ ، قَالَ: فَيُبْغِضُونَهُ ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي الأَرْضِ .

“Sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman: Sesungguhnya Aku mencintai Fulan maka cintailah dia. Jibril pun mencintainya, kemudian dia mengumumkan pada penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai Fulan maka cintailah dia. Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian diletakkan untuknya kecintaan di muka bumi. Dan apabila Dia membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman: Sesungguhnya Aku membenci Fulan maka bencilah dia. Jibril pun membencinya, kemudian dia mengumumkan pada penduduk langit: Sesungguhnya Allah membenci Fulan maka bencilah dia. Maka penduduk langit pun membencinya. Kemudian diletakkan untuknya kebencian di muka bumi.” (HR Muslim, no: 4772)

Hal-hal yang menguatkan ukhuwah islamiyah:

1.  Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai

عن المقداد بن معدي كرب أبي كريمة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إذا أحب أحدكم أخاه فليعلمه أنه يحببه (رواه البخاري)

Dari Abu Karimah Al Miqdad bin Ma’dikariba radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Apabila seseorang mencintai saudaranya, beritahukanlah kepadanya bahwa ia mencintainya.” (HR. Bukhari)

Kemudian hendaknya ia mendatangi rumah saudaranya dan memberitahunya bahwa ia mencintainya.

إذا أحب أحدكم صاحبه فليأته في منزله فليخبره أنه يحبه لله ) رواه أحمد)

Apabila salah seorang diantara kalian mencintai saudaranya, maka datanglah kerumahnya, lalu beritahu padanya bahwa engkau mencintainya.”  (HR. Ahmad, Hadits shahih sebagaimana dishahihul Jami’). Dan dalam riwayat yang mursal ditambahkan: ‘Sesungguhnya hal tersebut akan melanggengkan rasa kasih sayang’.

Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda:

“Ada seseorang berada di samping Rasulullah lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang disamping Rasulullah tadi berkata: ‘Aku mencintai dia, ya Rasullah.’ Lalu Nabi menjawab: ‘Apakah kamu telah memberitahukan kepadanya?’ Orang tersebut menjawab: ‘Belum.’ Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Beritahukan kepadanya.’ Lalu orang tersebut memberitahukan kepadanya seraya berkata: ‘ Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.’ Kemudian orang yang dicintai itu menjawab: ‘Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.” (HR. Abu Dawud)

2.       Menyebarkan salam

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ )) [رواه مسلم والترمذي وابن ماجه وغيرهم]

“Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya. Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak bisa sempurna keimanan kalian sampai kalian saling mencintai, maukah kalian aku beritahu sesuatu yang apabila kalian kerjakan kalian saling mencintai? Tebarkanlah salam diantara kalian.” )HR Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad(.

Ketika seseorang melakukan penghormatan kepada kita, maka balaslah yang serupa atau yang lebih baik. Salah satu bentuk penghormatan diantaranya; selamat pagi, selamat siang dan sebagainya. Kata-kata tersebut itu berbeda dengan Salam dalam Islam, karena Salam dalam Islam mengandung makna yang dalam yang menunjukkan do’a yaitu: “assalâmu ‘alaikum” yang artinya: “semoga diberikan keselamatan atasmu.” Dan ini adalah salam yang syar’i atau yang diperintahkan. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan melontarkan salam kepada orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab. Dan jika ada  orang-orang kafir mengucapkan salam yang syar’i: “assalâmu ‘alaikum” maka jawablah dengan wa’alaikum.

jika ada teman kita sesama muslim mengucapkan assalâmu ‘alaikum maka jawablah dengan wa’alaikumussalâm warahmatullah atau yang serupa “wa’alaikumussalâm, kalau dia mengucapkan assalâmu ‘alaikum warahmatullâh maka jawablah wa’alaikumussalâm warahmatullâhi wabarakâtuh atau yang serupa wa’alaikumussalâm warahmatullah. Intinya adalah jawablah dengan yang serupa atau lebih dari itu sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam salam mengandung 3 doa; keselamatan, kasih sayang dan keberkahan. Ucapan assalâmu ‘alaikum mencakup nama Allah, as-Salâm, dan memohon keselamatan dari-Nya. (As-salâm: Maha memberi keselamatan).

Memberi salam kepada sesama pada dasarnya merupakan salah satu agenda Islam untuk membangun manusia, di mana hal ini dapat menghilangkan sifat-sifat negatif seperti rasa asing, curiga, rasa amarah dalam hati, kedengkian dan permusuhan serta menggantikannya dengan cinta. Memberi salam dan berjabat tangan akan semakin mendekatkan hubungan antarsesama manusia.

Betapa banyak kaum muslimin yang masih membiasakan anak-anak mereka ketika berpisah melambaikan tangan sambil mengatakan, “Daaah!” Atau ketika bertemu dengan anak-anaknya dia menyapa, “Halo, Sayang!” Begitu pula si anak akan menjawab, “Halo, Papa! Halo, Mama!”

Betapa banyak itu terjadi, dan masih banyak pula gambaran yang lain. Sementara Contoh yang begitu gamblang kita dapatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau biasa menyapa dan menyampaikan salam kepada anak-anak para shahabat.

Sesuatu yang jika dikerjakan, niscaya akan saling mencintai yaitu sebarkanlah salam di antara kalian

3.    Saling memberi hadiah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari)

Salah satu sebab tumbuhnya rasa cinta dalam hati adalah hadiah. Maka salinglah memberi hadiah, bukan hanya menerima tanpa member,  kita harus punya semangat berbagi karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Hadiah ini tidak harus mahal, karena yang dinilai disini adalah keikhlasan dalam memberi hadiah, berilah hadiah meskipun hadiah itu sederhana atau kecil nilainya, namun berkesan bagi yang menerimanya. Dan tidak selayaknya bagi seseorang menolak hadiah meskipun hadiah tersebut tidak menarik hatinya, ataupun menerimanya dengan sikap dingin, terimalah hadiah itu dengan antusias sebagai tanda penghormatan bagi saudara kita. Bagi yang memberi jangan berniat agar mendapatkan balasan yang lebih banyak, atau banyak menyebut, mengungkit-ungkit hadiah yang telah diberikan kepada saudaranya, maupun meminta kembali hadiah yang telah diberikan.

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘ahu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “’Orang yang menarik kembali pemberiannya seperti anjing yang muntah kemudian menjilatnya kembali.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Hajar berkata: “Maksudnya ialah tidak pantas bagi kita -wahai segenap kaum mukminin- bersifat dengan sifat yang tercela yang kita diserupakan di dalamnya dengan hewan yang paling hina pada keadaan yang paling hina.” Barangkali ini lebih mengena di dalam pelarangan terhadap hal yang demikian itu dan lebih menunjukkan pengharaman.

Dalam persahabatan janganlah seperti hamba dinar dan dirham. Yaitu mencaci sahabatnya ketika permintaannya, permohonannya tidak dikabulkan oleh sahabatnya. Hal ini akan menyebabkan putusnya persahabatan dan sering terjadi.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :  تعس عبد الدينار تعس عبد الدرهم تعس عبد الخميصة تعس عبد الخميلة إن أعطى رضى وإن لم يعط سخط تعس وانتكس وإذا شيك فلا انتقش طوبى لعبد أخذ بعنان فرسه في سبيل الله أشعث رأسه مغبرة قدماه إن كان في الحراسة كان في الحراسة وإن كان في الساقة كان في الساقة إن استأذن لم يؤذن له وإن شفع لم يشفع له. (رواه البخاري)

 4.      Saling mengunjungi saudaranya karena Allah Ta’ala

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَّ رَجُلا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا ، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ : ” أَيْنَ تُرِيدُ ؟ ” . قَالَ : أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ . قَالَ : ” هَلْ لَهُ عَلَيْكَ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا ؟ ” . قَالَ : لا ، غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ . قَالَ : ” فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكَ ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ .

“Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di sebuah desa. Di tengah perjalanan, Allah mengutus malaikat-Nya. Ketika berjumpa, malaikat bertanya, “Mau kemana?” Orang tersebut menjawab, “Saya mau mengunjungi saudara di desa ini.” Malaikat bertanya, “Apakah kau ingin mendapatkan sesuatu keuntungan darinya?” Ia menjawab, “Tidak. Aku mengunjunginya hanya karena aku mencintainya karena Allah.” Malaikat pun berkata, “Sungguh utusan Allah yang diutus padamu memberi kabar untukmu, bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana kau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim)

Tapi jangan terlalu sering, kunjungan yang terlalu sering juga akan memunculkan kebosanan. Jadi, kunjungilah saudara kita sesekali waktu niscaya akan bertambah rasa kasih sayang diantara kita.

Bukti ketulusan cinta karena Allah

Menyukai kebaikan bagi saudara kita

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ ، وَتَرَاحُمِهِمْ ، وَتَعَاطُفِهِمْ ، مَثَلُ الْجَسَدِ ؛ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى .

“Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang, bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya.” [HR. Muslim]

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah seseorang itu beriman sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al Hujurat: 11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا .

“Mukmin satu sama lainnya bagaikan bangunan yang sebagiannya mengokohkan bagian lainnya.” [HR. Bukhari]

Membersihkan hati dari rasa dengki

Hasad (dengki) yaitu engkau mengharap hilangnya nikmat dari saudaramu, atau sekedar merasa benci dan tidak senang jika kebaikan dan nikmat ada pada dirinya, dengan kata lain senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang. Orang yang dengki jiwanya akan selalu terusik jika melihat saudaranya mendapatkan anugerah dan nikmat, pada hakekatnya ia tidak menerima sepenuhnya takdir Allah Ta’ala, seolah-olah ia mengatakan bahwa Allah Ta’ala telah keliru memberikan nikmat pada selain dirinya. Dengki ini juga merupakan sebab yang menggiring seseorang bertindak maksiat atau kezaliman seperti syirik, sihir, ‘ain dan lain sebagainya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (QS. Al Falaq: 5 )

Maka dari itu Rasulullah memperingatkan umatnya agar menjauhi sifat dengki khususnya dalam hal persaudaraan, tidak akan ada ukhuwah yang dapat dibina apabila penyakit hasad masih terus dipelihara.

لاَتَبَاغَضُوْا وَلاَ تَحَاسَدُوْا وَلاَ تَدَابَرُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara.” [Muttafaq 'Alaih]

Salah satu perkara yang dapat memasukkan seseorang ke surga adalah dengan menghilangkan rasa hasad kepada orang-orang beriman.

Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata: “Ketika kami di masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba beliau bersabda: “Akan masuk kepadamu seorang ahli surga sambil memegang kedua kasutnya dengan tangan kirinya.” Maka tiba-tiba masuk seorang sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah. Sesudah memberi salam ia duduk bersama kami. Kemudian pada esok harinya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi dan masuk kembali orang itu seperti keadaan kemarin dan hari ketiga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi seperti hari pertama dan kedua, dan ketika orang itu bangun untuk kembali, Abdullah bin ‘Amr Al-ash mengikutnya dan berkata kepada orang itu: “Telah terjadi pertengkaran sedikit antaraku dengan ayahku sehingga aku bersumpah tidak akan masuk ke rumah selama tiga malam, maka jika engkau tidak keberatan saya akan bermalam dirumahmu selama itu?” Jawabnya: “Baiklah.” Anas berkata: “Abdullah bin Amr menceritakan bahwa ia bermalam di rumah orang itu dan ternyata orang itu tidak bangun malam, hanya sebelum tidur ia berdzikir sehingga bangun waktu fajar, ia berwudhu dengan sempurna dan sembahyang dengan khusyuk dan tidak puasa sunnah. Demikian saya perhatikan kelakuannya sampai tiga hari tiga malam, tidak lebih dari itu. Ia tidak berkata-kata kecuali yang baik-baik. Dan setelah tiga malam saya merasa bahwa ia tidak mempunyai amal yang berlebihan, lalu saya berkata padanya: “sebenarnya antara ku dengan ayahku tidak ada apa-apa, tetapi saya telah mendengar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam tiga majlis: “Akan tiba padamu seorang ahli surge.” Tiba-tiba engkau datang dan karena itu saya ingin mengetahui amalmu, maka saya berusaha bermalam di rumahmu untuk meniru amalmu, tetapi menurutku amalmu tidak berlebihan, maka apa kiranya yang menjadi kelebihanmu sehingga Rasulullah bersabda sedemikian?” Jawabnya: “Tidak lain melainkan apa yang sudah engkau lihat itu.” Maka aku kembali pulang, tetapi aku dipanggil olehnya dan berkata: “Amalku tidak lebih melainkan apa yang engkau saksikan itu, cuma saja, saya tidak irihati atau dengki pada seseorang muslim terhadap segala yang ia perbuat terhadapku.” Maka saya katakan: “Inilah yang menyampaikan engkau sehingga Rasulullah bersabda demikian, dan itulah yang tidak dapat kami lakukan.”

Mendoakan kebaikan bagi saudaranya

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا لأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

“Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (HR. Muslim)

Wallahu Ta’ala a’lam

Leave a Reply