Tradisi Bangsa Arab Sebelum Datangnya Islam

Pemateri: Ust. Abdurrahman Makatita, Lc.
Editor: Ibnu Anshor

arab-jahiliyahPembahasan sirah nabawiyah sudah memasuki seri ke tiga. Tulisan ini akan membahas tentang agama bangsa Arab sebelum datangnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebelum datangnya Islam, mayoritas dari bangsa Arab mengikuti dakwah Nabi Ismail ‘alaihimassalam, anak dari bapaknya para nabi, yaitu Ibrahim ‘alaihissalam dan dakwah yang disampaikan hanya mengesakan Allah Ta’ala dengan ibadah. Jadi dakwah para Nabi, termasuk Ismail yang sering didengar ayat-ayat Allah tentangnya dalam al-Qur’an, di mana keduanya (Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail) ditempatkan pada sebuah lembah yang tandus dan kering, tidak ada air dan tumbuh-tumbuhan, tidak ada manusia lain kecuali mereka bertiga.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ibrahim:

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُون  (إبراهيم: 37)

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim: 37).

Ayat di atas adalah do’a Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Inilah satu ajakan Nabi Ibrahim alaihissalam,  selain permohonan kepada Allah Ta’ala, tentunya ini adalah salah satu dakwah Nabi Ibrahim mengajak orang untuk beribadah kepada Allah semata dengan mendirikan shalat. Maka dalam bahasa Arab, huruf “lam” di atas adalah “lam kay“ yang berarti “supaya”. Dakwah Nabi Ibrahim alaihissalam inilah yang selalu menjadi pegangan masyarakat Arab pada masa itu.

A. Menyembah dan Berkorban Untuk Berhala

Namun seiring dengan perjalanan waktu dan tahun, banyak perubahan dialami masyarakat Arab. Syi’ar dakwah Nabi Ibrahim alaihissalam sudah mulai menghilang, sampai muncul seorang yang bernama ‘Amru bin Luhay. Dia terkenal sebagai orang yang baik, banyak berbuat baik dan bersedekah, bahkan terkait dengan nilai-nilai agama dia cepat merespon sehingga masyarakat Arab pada masa itu sangat mencintainya. Bahkan, mereka menganggapnya orang yang paling punya peran dan disegani, dan hampir menjadikannya seorang wali. Di saat nilai dakwah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk beribadah kepada Allah semata mulai menghilang, sedikit demi sedikit dari masyarakat Arab muncul, di antaranya salah seorang tokoh yang bernama Amru bin Luhay ini.

Namun sayangnya, dalam suatu waktu ia melakukan perjalanan ke wilayah Syam. Di wilayah tersebut ia menemukan masyarakatnya banyak menyembah berhala, karena mereka menganggap inilah yang paling benar bagi mereka. Lalu menurut Amru bin Luhay, Syam merupakan tanahnya para Rasul dan banyak kitab Allah diturunkan, sehingga karena melihat kondisi masyarakat Syam yang menyembah berhala, ia kembali ke Mekkah dengan membawa satu berhala yang bernama Hubal, kemudian diletakkan di sekitar Ka’bah. Lalu ia mengajak orang untuk menyembah Hubal, dan menyekutukan Allah Ta’ala, sehingga masyarakat Arab sudah mulai keluar dari nilai-nilai agama yang murni.

Inilah yang terjadi, sehingga yang muncul adalah banyak berhala di masyarakat Arab. Dalam pembahasan Fathu Makkah, Rasulullah menyeru para sahabat untuk menghancurkan berhala di sekitar Ka’bah yang berjumlah kurang lebih 360 berhala. Tiga berhala yang paling dikenal saat itu adalah Manat, Latta dan ‘Uzza, inilah yang dijadikan sebagai sesembahan mereka. Coba lihat beberapa bentuk hal yang dilakukan oleh mereka ini. Ketika musim haji, dan ini juga merupakan seruan dakwah Nabi Ibrahim, dikala orang datang berthawaf mengelilingi Ka’bah, maka berhala-berhala ini diserahkan. Jadi ketika berthawaf, mereka juga membawa berhala, mereka mentauhidkan Allah dan juga mempersekutukan Allah Ta’ala, karena menurut mereka menyembah berhala itu di luar dari agama.

Akhirnya berhala-berhala itu kembali diletakkan di sekitar Ka’bah, dan hasilnya di sekitar Ka’bah terdapat berbagai macam berhala dan patung. Inilah yang dilakukan masyarakat Arab dahulu sebelum datangnya Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berthawaf mengelilingi Ka’bah yang penuh dengan berhala sambil meminta pertolongan dalam menghadapi kesulitan, dan berdoa dengan penuh keyakinan bahwa berhala-berhala itu akan memberikan manfaat dan syafa’at serta apa yang mereka kehendaki dan inginkan akan terwujud. Jadi mereka berthawaf mengelilingi Ka’bah sekaligus mengelilingi berhala mereka.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al Maidah ayat 3 berkaitan dengan sembelihan mereka untuk berhala.

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala……” (Al Maidah: 3).

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al An’am: 121).

Jadi masyarakat Arab dahulu adalah menyembelih binatang dengan menyebutkan nama berhala mereka dan bukan atas nama Allah, inilah tradisi dan kebiasaan yang dilakukan orang Arab.

Hal lain yang dilakukan adalah mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan mengkhususkan sebagian dari makanan dan minuman yang mereka pilih. Kalau mereka mengambil hasil panen, maka sebagian dikhususkan untuk berhala mereka dan sebagiannya untuk Allah Ta’ala, dengan maksud apa yang disajikan kepada Allah hanya sampai kepada berhala mereka, bukan kepada Allah.

B.  Mengkhususkan Sesuatu Untuk Berhala Mereka

“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, ‘lni untuk Allah dan Ini untuk berhala-berhala kami’. Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.”  (Al An’am: 136).

Maka kebiasaan ini terus terbiasa dalam kehidupan masyarakat Arab. Sehingga kita lihat dalam satu ayat al-Qur’an, mereka mulai mencaci masa, bahkan mereka mengatakan bahwa manfaat dan tidak manfaatnya itu tergantung masa bukan tergantung Allah Ta’ala.

C. Mencela Masa

“Dan mereka berkata, Kehidupan Ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al Jatsiyah: 24)

Kalau kita kembali kepada tafsir, Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan bahwa mereka itu adalah orang-orang musyrik bangsa Arab dan orang-orang kafir. Jadi sejak dahulu, yang ada pada diri orang kafir hanyalah prasangka. Mereka menyangka sajian dan apa yang mereka lakukan akan sampai kepada berhala dan akan sampai kepada Allah, padahal sama sekali semua sajian kepada Allah Ta’ala itu tidak akan sampai.

D. Mendekatkan Diri Kepada Allah dengan Bernadzar, Menyajikan Sebagian Hasil Tanaman dan Ternak Untuk Berhala-Berhala.

Bentuk tradisi lain atau agama yang ditemui pada masyarakat jahiliyyah adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan bernadzar, menyajikan sebagian hasil tanaman dan ternak untuk berhala-berhala.

“Dan mereka mengatakan, ‘Inilah hewan ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki’, menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan ada binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah waktu menyembelihnya .  Semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan.”  (Al An’am: 138).

مَا جَعَلَ اللّهُ مِن بَحِيرَةٍ وَلاَ سَآئِبَةٍ وَلاَ وَصِيلَةٍ وَلاَ حَامٍ وَلَـكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ وَأَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ (المائدة: 103)

“Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.(Al Maidah: 103).

Ibnu Ishaq rahimahullahu mengatakan bahwa Bahiirah adalah anak dari Saaibah. Saaibah adalah onta betina yang beranak sepuluh dan semuanya betina. Tentunya orang Arab itu paling bangga dengan onta betina. Karenanya di antara tanda hari kiamat adalah Allah mematikan onta-onta betina. Onta seperti ini tidak boleh ditunggangi, tidak boleh diambil bulunya, susunya tidak boleh diminum kecuali oleh tamu. Jika onta itu melahirkan seekor onta betina lagi (berarti yang ke sebelas), maka telinganya harus dibelah dan harus dilepaskan secara bebas bersama induknya, dan juga harus mendapatkan perlakuan yang sama.

Washiilah adalah domba betina yang mempunyai 5 anak kembar, semuanya betina dan berturut-turut. Dan ini bisa dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tapi jika setelah itu melahirkan domba jantan dan tidak mati, maka domba ini boleh disembelih dan dagingnya boleh dimakan.

Haam adalah onta jantan yang sudah membuntingi onta betina sepuluh kali, dan melahirkan onta betina berturut-turut. Onta seperti ini tidak boleh ditunggangi, bulunya tidak boleh diambil dan tidak boleh dimanfaatkan untuk kegiatan apapun. Maka Allah Ta’ala menegur hal ini dalam surat Al Maidah: 103.

Ini adalah beberapa kebiasaaan yang dilakukan oleh orang Arab dahulu sebelum datangnya Islam. Kita melihat mereka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan berhala-berhala mereka, karenanya Allah Ta’ala menegur mereka.

“Dan mereka mengatakan,’Apa yang ada dalam perut binatang ternak ini  adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,’ dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, Maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al An’am: 139).

Maka di dalam surat az-Zumar, mereka beralasan bahwa mereka tidak menyembah berhala tersebut melainkan hanya sebagai sarana agar bisa dekat kepada Allah Ta’ala.

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ (الزمر:3)

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya’. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”  (Az-Zumar: 3)

Hari ini, sering terdengar istilah tawassul (sarana) mendekatkan diri kepada Allah. Memang diperbolehkan bertawassul dengan orang shalih yang masih hidup, tapi sebaik-baik tawassul adalah tawassul dengan amal shaleh dan kebaikan kita sendiri. Jadi, setiap selesai kita melakukan kebaikan, kita boleh berdo’a. Kalau kita bertawassul dengan orang shalih, hanya sekedar meminta supaya dia berdoa memohon kepada Allah Ta’ala, tapi mengharapkan bahwa kebaikan-kebaikan datang dari orang itu atau orang itu akan menolak kemudharatan, maka hal ini sama sekali tidak benar. Apalagi kalau orang tersebut telah meninggal, datang ke kuburannya dan meminta do’a darinya, maka hal ini sudah keluar dari nilai Islam dan Islam tidak mengajarkannya. Hal seperti ini terjadi pada masyarakat Arab dahulu dan sekarang pun terjadi hal demikian.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (Yunus: 18).

E. Mengundi Nasib

Tradisi masyarakat Arab dahulu lainnya adalah mengundi nasib dengan anak panah. Atau dengan tanda air dan tebusan. Ada lagi tertulis dari golongan kalian dan bukan dari golongan kalian atau anak angkat, hal ini dalam rangka menentukan nasabnya seorang anak. Karena kebiasaan orang Arab, satu wanita bisa didatangi oleh sepuluh laki-laki, dan ini adalah kebiasaan buruk.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah: 90)

Tahun 2009 komnas perlindungan anak mensurvey, bahwa sekitar 62% anak SMP sudah tidak perawan lagi. Bahkan 90% sudah terbiasa berkhalwat antara laki-laki dan perempuan.

F. Berjudi dan Mendatangi Paranormal

Tradisi masyarakat arab lainnya adalah perjudian, paranormal atau dukun. Meramal nasib dengan suara burung, misalkan ada burung yang lewat, bisa diramal suara ini menandakan kebaikan atau suara ini menandakan ada yang mati. Hal seperti itu tidak berbeda jauh dengan kebiasaan mereka yang menggantungkan ruas tulang kelinci.

Hal seperti ini banyak didapatkan di masyarakat. Seperti halnya seorang yang mau menikah, ia lebih memilih menikah pada hari Kamis, dan bukan hari libur. Padahal biasanya mayoritas orang menikah itu di hari libur. Setelah kami menghadiri undangan pernikahannya, kami bertanya kepada keluarganya, “kenapa nikahnya hari Kamis?” “Karena bertepatan dengan ulang tahunnya”, jawabnya. “Memang ulang tahunnya hari Kamis?“ “Tidak, ulang tahunnya hari Jum’at,” jawab keluarganya. “Lalu kenapa tidak hari Jum’at saja?” Kata mbahnya, “Hari Jum’at adalah hari sial”. Padahal Rasulullah mengatakan bahwa sebaik-baik hari adalah hari jum’at.

Ada juga cerita tentang pasangan suami istri yang 7 tahun belum dikarunia anak. Lalu mereka mendengar informasi ada seorang pak Haji yang pintar. Kemudian mereka mendatanginya. Setelah setiap pekan datang ke tempat pak Haji tadi dengan bersalaman dan pengakuan dari wanita itu seolah-olah ada sesuatu yang masuk, lalu diberikan jamu dengan membayar 20 ribu. Setiap pekan ia harus datang dan bersalaman. Akhirnya ia pun terlambat datang bulan dan hamil, namun harus diperiksa di klinik yang ditentukan pak Haji dan tidak boleh di tempat lain, namun setelah 13 bulan bayinya belum lahir, akhirnya mereka pun kebingungan. Kemudian mereka konsultasi dengan salah seorang ustadz, lalu di rumah ustadz tersebut ditemani beberapa ustadz lainnya dibacakan beberapa ayat al-Qur’an, lalu terjadi reaksi yang tidak begitu besar, cuma reaksi dengan muntah-muntah saja. Lalu ustadz tadi menasehatinya, “Hal ini harus dilakukan secara rutin di rumah, dengan ibadah yang lain puasa senin kamis, banyak membaca al-Qur’an dan banyak istighfar.” Akhirnya berat badan ibu tadi berkurang 12 kg, perutnya mengecil tanpa melahirkan anak.

Jadi, praktek paranormal dan dukun pada masyarakat Arab jahiliyyah dahulu juga banyak didapati pada zaman sekarang. Oleh karena itu, sejarah yang kita dapatkan dalam kajian sore ini, apabila kita melihat kebiasaan ini di sekitar kita, tentunya sudah ada pada masyarakat Arab dahulu sebelum datangya Islam.

Karenanya dakwah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam mentauhidkan Allah Ta’ala dengan seiring berjalannya waktu, kemudian nilai-nilai dakwah yang murni itu semakin menghilang, sampai datangnya Amru bin Luhay yang disebut sebagai orang baik, namun dia sendiri mendatangkan sesuatu yang tidak baik dengan membawa berhala Hubal itu, dan akhirnya menjadikan masyarakat Arab yang menyembah berhala. Termasuk dalam ibadah haji, telah terjadi perubahan. Yang seharusnya thawaf di Ka’bah, haji maupun umrah, ataupun wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, ternyata terjadi perubahan pada saat itu. Hal ini disebabkan karena orang-orang Quraisy mengatakan bahwa mereka adalah anak keturunan Ibrahim dan penduduk tanah suci, penguasa Ka’bah, penghuni Makkah, dan tak seorangpun bangsa Arab mempunyai hak dan kedudukan seperti kami. Akhirnya mereka wukuf dengan tidak keluar ke Arafah. Ada batasan-batasan tertentu yang tidak mereka lewati. Inilah kebiasaan bangsa Arab sebelum datangnya Islam.

Demikianlah sedikit gambaran agama yang dianut oleh masyarakat jahiliyyah dahulu. Mudah-mudahan dengan ini semakin memberikan pemahaman kepada kita, ketika masuk dalam bentuk gambaran Arab Jahiliyyah dahulu sampai dengan lahirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesempatan kepada kita untuk mengkaji sirah Nabi ini sampai selesai. Karena saya yakin banyak pelajaran penting dan kisah-kisah menarik yang bisa dapatkan dalam sirah Nabi ini dan kita praktekan dalam kehidupan kita, tentunya sesuai dengan kemampuan kita. Karena ada hal-hal tertentu yang dimiliki oleh Rasulullah yang tidak bisa kita mengikutinya atau tidak ada kemampuan untuk melakukannya.

Wallahu Ta’ala ‘alam

Leave a Reply