Hikmah dari Surah Al-Insyirah

Oleh: KH. DR. Qomaruddin, MA

surah-alinsyirah

Alhamdulillah pada malam ini setelah kita melaksanakan shalat maghrib, kita akan mentadabburi alquranul karim yaitu surat al insyirah atau yang dikenal dengan surat alam nasyrah.

Dalam setiap perjuangan, baik perjuangan menjalankan dakwah, mengajar, bekerja dalam rangka ma’isyah, berdagang dan sebagainya, diperlukan azam yang kuat, tekad yang bulat, harus mempunyai pengharapan, optimisme, jangan sekali-kali putus semangat, putus harapan apalagi putus asa. Sifat putus asa dalam perjuangan merupakan mentalitas orang-orang kafir, hal itu ditegaskan dan diabadikan dalam surat Yusuf: 87

“….dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Setiap Nabi atau Rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyampaikan dakwah risalah ilahiyah kepada seluruh umat manusia, pada umumnya selalu menghadapi tantangan demi tantangan, rintangan demi rintangan, kesulitan demi kesulitan, sehingga kalau tidak kuat azamnya, tidak bulat tekadnya maka kadang-kadang bisa membuat nafas menjadi sesak, tak terkecuali Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjalan tugas dan kewajibannya sebagai Rasul Allah, menyampaikan dakwah ditengah masyarakat bangsa quraisy pada saat itu, tidak sedikit mengalami kesulitan demi kesulitan, banyak perlakuan dari kaum kafir quraisy yang menyakitkan, banyak ucapan dan tuduhan tidak menyenangkan ditujukan kepada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka, ketika Nabi Muhammad sudah mencapai puncak kesulitan, pada saat itulah turun wahyu ilahi rabbi yang memberikan pengharapan kembali pada diri Nabi Muhammad, wahyu itu adalah surat Al Insyirah.

Ternyata surat itu memberikan semangat, injeksi kekuatan, memberikan energy kepada Rasulullah. Pada pokoknya mengandung beberapa petunjuk yang bisa dijadikan sebagai petunjuk bagi kehidupan kita di dalam menjalani berbagai macam pekerjaan, persoalan, dalam menjalankan tugas dan kewajiban.

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ {1} وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ {2} الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ {3} وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ {4} فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً {5} إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً {6} فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ {7} وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ {8}

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al Insyirah: 1-8)

 

Allah Ta’ala memberikan nama surat ini dengan As Syarh atau Al Insyirah, karena di awal pembukaan surat ini, Allah Ta’ala berfirman dengan redaksi “alam nasyrah laka shadraka” sehingga disebutlan nama surat ini dengan “Al Insyirah” yang artinya “lapang dada (berjiwa besar).”

Pokok-pokok kandungan surat ini diantaranya:

Menjelaskan tentang banyaknya nikmat Allah yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada 3 nikmat yang paling besar diberikan kepada Nabi Muhammad:

  1. Allah melapangkan dada Nabi Muhammad, yaitu dengan diberikan ilmu hikmah dan iman, mensucikan Nabi dari segala macam dosa dan kotoran serta mengangkat martabat dan kedudukan beliau di dunia dan di akherat.
  2. Allah Ta’ala berjanji kepada Rasulullah akan memberikan solusi (jalan keluar) dari sesuatu kesulitan menjadi kemudahan, dari kesukaran menjadi kelapangan, dan akan menghilangkan segala macam hal yang membuat hati dan diri Nabi menjadi hilang, sedih.
  3. Allah senantiasa memerintahkan Rasulullah untuk terus melakukan ibadah setelah selesai melakukan sesuatu perjuangan, pekerjaan, dan segala macam urusan sebagai tanda syukur kepada Allah Ta’ala, dan diperintahkan untuk senantiasa berharap dan berserah sepenuhnya kepada Allah, dengan menjalankan ibadah kepada-Nya.

Sekarang kita mencoba mengkaji ayat-per ayat, lalu kita ambil pelajaran agar kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?.”

Di dalam gramatika bahasa arab susunan ayat ini pada lahirnya bentuknya berupa pertanyaan “istifham taqriri” pertanyaan yang berfungsi sebagai  penegasan yang positif, sebuah pernyataan. Artinya bentuknya pertanyaan tapi pada hakekatnya adalah penegasan positif bahwa Allah Ta’ala telah melapangkan dada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Imam Ali Ash Shabuni rahimahullahu dalam tafsirnya mengatakan:

“Allah Ta’ala melapangkan dada Nabi Muhammad dengan petunjuk, iman dan dengan cahaya alquran.”

Sedangkan Ibnu Katsir rahimahullahu memaknainya dengan: “Allah Ta’ala menerangi hatinya, menjadikan dadanya lapang, sebagaimana Allah Ta’ala melapangkan dada Nabi demikian pula Allah Ta’ala melapangkan syare’atNya, syare’at Nabi Muhammad menjadi mudah, ringan dan tidak sulit.” Seperti halnya keringanan dalam shalat, jika seseorang tidak mampu berdiri, maka ia boleh shalat dengan duduk, jika tidak mampu maka dengan berbaring, dan jika tidak mampu juga maka shalatlah dengan isyarat.

Kemudian Abu Hayyan dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “syarh Shadr” di sini adalah Allah Ta’ala menerangi dadanya dengan ilmu dan hikmah, dan menjadikannya dadanya lapang, agar Rasulullah mampu menerima wahyu ilahi, dan ini merupakan pendapat jumhur ulama’. Kemudian ada lagi yang menafsirkan “syarh Shadrihi” dengan; “ketika Rasulullah masih kecil sedang menggembala kambing, Jibril ‘alaihissalam datang membelah dadanya, mengambil hati atau jantungnya lalu dibersihkan dengan air zam-zam, dikembalikan dan diisi kembali dengan iman, ilmu dan hikmah.”

Karena Rasulullah adalah Nabi yang terpilih, maka Allah Ta’ala tidak mau ketika Rasulullah menyampaikan tugas dan kewajibannya ada kemurungan tidak berhasil. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa perjuangan Rasulullah sungguh sangat dahsyat, diperlakukan sedemikian rupa oleh orang-orang yang tidak senang, baik berupa sikap, ucapan maupun perbuatan, semuanya membuat Nabi tidak senang. Dan ini merupakan gangguan, tantangan, rintangan dan kesulitan. Sebab itu, Allah Ta’ala telah memberikan hidayah, memantapkan iman dan telah memancarkan cahaya alquran kepada diri Nabi Muhammad, maka dada Nabi menjadi lapang dan beliau memilikii jiwa yang besar sehingga beliau mampu menjalani tugas dan kewajibannya sampai akhirnya menggapai kemenangan yang gilang gemilang.

Setiap orang apalagi pemimpin yang diberikan Allah Ta’ala dada yang lapang, pandangan yang luas, jiwa yang besar maka ia akan mendapatkan keteguhan hati untuk melanjutkan perjuangannya, meneruskan pekerjaannya, walaupun banyak tantangan dan rintangan karena Allah telah mengaruniakan dada yang lapang dan jiwa yang besar, maka insya Allah dia akan berhasil sampai mencapai kesuksesan, kemenangan seperti yang dicontohkan dalam kehidupan pribadi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Jadi orang yang mempunyai dada yang lapang atau jiwa yang besar ini, ia akan mendapatkan semacam kekuatan batin, akan memperoleh energy dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, sehingga beban yang berat akan terasa ringan, pekerjaan yang besar akan terasa kecil, ia tidak mudah cemas, tidak mudah gudup, dan tidak akan kehilangan keseimbangan, apalagi patah semangat. Seorang muslim itu semangatnya berkesinambungan apabila ia istiqamah membaca alquran sehingga ia mendapatkan cahaya ilahi.

Apabila seseorang ingin memperoleh dada yang lapang, selain daripada membaca alquran maka hendaknya kita selalu berdoa kepada Allah Ta’ala. Bunyi doa itu adalah:

ربّ اشرح لي صدري ويسّرلي أمري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي

“Ya Allah lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, serta lepaskanlah kekakuan lidahku supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha: 25-27)

Doa ini diabadikan di dalam alquranul karim dalam surat Thaha: 25-27. Dan doa ini diucapkan oleh nabi Musa ‘alaihissalam saat akan menghadapi Fir’aun. Hal ini mengandung makna bahwa nabi Musa ‘alaihissalam memohon diberi kelapangan dan kekuatan jiwa saat menghadapi Fir’aun yang begitu zalim dan sangat besar kekuasaannya. Jadi doa ini tidak hanya diucapkan ketika akan menyampaikan kajian, namun doa ini juga bisa digunakan untuk memiliki kelapangan dada dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan.

Seseorang juga dianjurkan untuk berdoa setelah membaca alquran, diantaranya yaitu doa.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُوْرًا وَفِي لِسَانِي نُوْرًا, وَاجعل فِي سَمْعِي نُوْرًا , وَ فِي بَصَرِي نُوْرًا , واجعل عَنْ يَمِيْنِي نُوْرًا، وَعَنْ شِمَالِي نُوْرًا، وَاجعل مِنْ خَلْفِي نُوْرًا، وَمِنْ أَمَامِي نُوْرًا ، وَاجعل َمِنْ فَوْقِي نُوْرًا , وَمِنْ تَحْتِي نُوْرًا , اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُوْرًا,

“ya Allah, jadikanlah dalam hatiku cahaya, dan cahaya di lidahku, jadikanlah dalam pendengaranku cahaya, dan dalam pandanganku cahaya, dan jadikanlah di kananku cahaya,dan  di kiriku cahaya, dan jadikanlah di belakangku cahaya, di atasku cahaya, dan di hadapanku cahaya, dan jadikanlah dari atasku cahaya, dan dibawahku cahaya , ya Allah jadikanlah bagiku cahaya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka dengan doa di atas, Allah Ta’ala akan memberikan cahaya alquran ke dalam diri kita sehingga mampu menjalani hidup ini dengan tenang.

Kalau demikian, ternyata dada yang lapang sangat berpengaruh di dalam setiap tindakan manusia. Apabila jiwa seseorang besar, tentunya daya tahan dan daya juangnya semakin kuat, kuat menghadapi tantangan, gosip, kuat menghadapi ocehan orang, istiqamah di dalam berdakwah, di dalam memperjuangkan kegiatan islam, dan terus berjalan di atas shiratal mustaqim.

Oleh sebab itu Allah Ta’ala memberikan jiwa yang besar kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam agar tenang, tidak gugup dan berani dalam menghadapi orang –orang kafir yang tidak senang kepada dakwah islam. Inilah rahasia ayat “alam nasyrah laka shadrak.” Sebab itu jadikanlah surat ini sebagai tadabbur alquran dengan harapan Allah melapangkan dada kita dalam menghadapi persoalan hidup.

Ibnu Taimiyah rahimahullahu jika suasana hatinya tidak enak, kesedihan, galau, maka beliau membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan ketenangan, sehingga lambat laun hatinya akan menjadi tentram.

Ayat selanjutnya yaitu:

وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ {2} الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ

“Dan kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu.” (QS. Al Insyirah: 2-3)

Yang dimaksud dengan beban disini yaitu perkara ijtihad Rasulullah yang mendapatkan teguran dari Allah Ta’ala, sehingga membuat Beliau merasa berdosa. Sebagaimana teguran Allah Ta’ala terkait dengan kisah Abdullah bin Umi Maktum yang datang kepada Rasulullah meminta ajaran-ajaran tentang Islam; lalu Rasulullah bermuka masam dan berpaling daripadanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah surat ‘Abasa sebagai teguran kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam sebuah riwayat beliau shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya seorang mukmin itu melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, dia mengusirnya dengan tangannya –begini–, maka lalat itu terbang.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2497 dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albâni -rahimahullâh-)

Karena Rasulullah merasa mempunyai beban dosa, kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat al insyirah ini, untuk menghilangkan beban itu dari pundaknya. Oleh karena itu setiap orang apalagi pemimpin yang mempunyai seribu satu macam persoalan dan tantangan, haruslah memiliki jiwa yang besar, keteguhan hati, kemantapan rohani dan dada yang lapang, jikalau tidak maka fisiknya tidak akan cukup tangguh untuk memikul beban yang demikian berat dan tidak akan kuat menangkis serangan yang datang bertubi-tubi.

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ (Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu)

Nama Beliau ditinggikan derajatnya di dunia dan di akherat dan diikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, baik diucapkan oleh seseorang yang akan masuk islam, diucapkan oleh muadzin, dan bahkan dalam shalat-shalat kita. Menjadikan taat kepada Rasulullah termasuk taat kepada Allah dan lain sebagainya.

Dan ternyata perjuangan Rasulullah digambarkan oleh ayat ini bahwa akan tercapai kemenangan yang gilang gemilang, cita-cita yang ditanamkan oleh beliau tumbuh subur menyebar ke pelosok dunia. Sehingga nama beliau disebut-sebut oleh jutaan manusia sebagai tanda kecintaan umat islam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu dengan bershalawat kepada beliau.

Wallahu Ta’ala a’lam…

Leave a Reply

*