Hal-Hal yang Harus Ditolak dalam Bertauhid

Pemateri: Ust. Farid Achmad Okbah, MA
Editor: Ibnu Anshor, S.Pd.I

ust-farid-ahmad-okbahAllah Ta’ala berfirman:

“Maka Ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (Muhammad: 19).

Pengetahuan seseorang terhadap Allah akan menentukan kualitas hubungannya dengan Allah. Sebagaimana pengetahuan seseorang tentang pentingnya al-Qur’an, akan menjadikan ukuran sejauh apa hubungannya dengan Allah, bisa diukur dengan sejauh apa hubungannya dengan al-Qur’an.

Oleh karena itu dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan tentang 3 orang yang ingin tahu seperti apa ibadahnya Rasulullah.

الأولى: عن حميد بن حميد أبي الطويل أنه سمع أنس بن مالك يقول: جاء ثلاثة رهط إلى بيوت أزواج النبي (صلى الله عليه وسلم) يسألون عن عبادة النبي (صلى الله عليه وسلم)، فلما أخبروا كأنهم تقالوها، فقالوا: وأين نحن من رسول الله (صلى الله عليه وسلم)؟ قد غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر. فقال أحدهم: أما أنا، فأنا أصلي الليل أبدا، وقال آخر: أصوم الدهر ولا أفطر. وقال آخر: أنا أعتزل النساء فلا أتزوج أبدا! فجاء رسول الله (صلى الله عليه وسلم) إليهم، فقال: أنتم الذين قلتم كذا وكذا؟ أما والله إني لأخشاكم لله، وأتقاكم له، ولكني أصوم وأفطر، وأصلي وأرقد، وأتزوج النساء، فمن رغب عن سنتي فليس مني “.أخرجه البخاري

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu: tiga orang laki-laki berkunjung ke rumah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakan bagaimana (kualitas) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beribadah kepada Allah. Ketika mereka diberitahu perihal itu, mereka merasa ibadah yang selama ini mereka lakukan sangat tidak memadai dan berkata: “begitu jauhnya kita dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dosa masa lampau dan masa depannya telah diampuni Allah”. Lalu salah seorang dari mereka berkata: “aku akan mengerjakan shalat sepanjang malam”, yang lain berkata: “aku akan berpuasa sepanjang tahun”, dan yang lainnya lagi berkata: “aku tidak akan menikah seumur hidupku”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menemui mereka dan berkata: “Apakah kalian orang-orang yang berkata ini dan itu? Demi Allah, aku lebih tunduk dan takut kepada Allah daripada kalian. Tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan menikahi perempuan. Maka barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari).

Ternyata 3 orang yang tersebut dalam hadits di atas dipersalahkan oleh Rasulullah, karena mereka tidak mengenal Allah sehingga perilakunya tidak sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Kalau saja manusia dibiarkan beribadah kepada Allah dengan seenaknya sendiri, menurut versi masing-masing orang, maka akan didapati banyak macam pola ibadah. Dan ini terjadi di tengah umat Islam sendiri, bukan di luar Islam. Nabi Muhammad itu cuma satu, namun mengapa kita melihat perilaku umat Islam dalam menyikapi kehidupan dan dalam hubungannya dengan Allah, didapatkan macam-macam bentuk dan model, ada apa dengan umat ini? Mengapa kita tidak serius dan sungguh-sungguh mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Memang banyak orang yang mengaku mengikuti ajaran Rasulullah namun tidak jarang yang diikuti adalah hadits-hadits yang lemah dan palsu.

Sekarang umat Islam berada di bulan Rajab. Berapa banyak edaran dalam sms, facebook, brosur dan sebagainya berisikan anjuran dan keutamaan untuk berpuasa di bulan Rajab.

Ibnu Rajab dalam kitabnya menjelaskan dalam kitabnya lathaaiful Ma’ruf: “Memang Rajab adalah salah satu bulan haram, tapi keutamaan yang tersebar di masyarakat itu tidak bersumber dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Memang kalau masuk bulan haram yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab umat Islam dianjurkan untuk banyak beramal shalih, menghindari segala bentuk kemaksiatan, penuh kedamaian dan tidak boleh ada peperangan dan keributan. Namun bukan berarti kita membuat sesuatu yang tidak diajarkan oleh Rasulullah, dan begitu pula dalam kehidupan umat yang banyak ini”

Karena itu, sejauh apa kita mengenal Allah sebesar itulah kita memberikan perhatian kita kepada Allah. Sebab itulah para Nabi dan Rasul diperintahkan agar inti ajarannya adalah membawa manusia kembali kepada Allah.

ولَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (النحل: 36)

“Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An Nahl: 36).

Hanya saja bagaimana rinciannya? Seseorang tidak akan memahami arti لاإله إلا الله sebelum dia tahu apa itu nafyun dan itsbat.

Hal-Hal yang Harus Ditolak dalam Bertauhid

Ketika kita mengatakan لاإله merupakan bentuk nafyun (peniadaan). Ada empat hal yang harus ditolak oleh seorang muslim, yaitu:

1. Meniadakan Tuhan-Tuhan lain selain Allah Ta’ala

Alangkah lucunya jika ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah meniadakan tuhan-tuhan kecil, padahal Allah Ta’ala menyatakan bahwa banyak tuhan yang dituhankan oleh manusia dan tidak ada kaitannya dengan tuhan itu kecil ataupun besar. Di antaranya adalah yang disebut dengan “إله”.

“Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar. “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (Al An’aam: 74).

Nabi Ibrahim terkenal dengan bapaknya Tauhid. Penulis berkesempatan mengunjungi tempat-tempat berhala yang terdapat di negeri Arab, dan selama ini penulis bertanya-tanya dalam pikirannya mengapa para Nabi dan para Rasul yang disebutkan oleh Rasulullah berjumlah 124 ribu nabi dan 313 Rasul, semuanya diutus ke negeri Arab. Ada apa dengan negeri Arab? Setelah melihat fakta di lapangan, ternyata jawabannya adalah karena tidak ada penyembahan berhala sehebat yang ada pada mereka.

Kita lihat bagaimana kaum romawi dengan kekuasaannya mencoba membuat berhala di daerah Mesir. Bapak Ibu kalau pergi ke Yordan, ada namanya Petra, satu kota bergunung-gunung yang telah dipahat oleh mereka menjadi berhala yang luar biasa. Dari samping kelihatan ikan, dari depan kelihatan gajah besar sekali. Di tempat itulah mereka melakukan penyembahan terhadap berhala yang mereka buat. Dari sanalah berhala-berhala dikirim ke negeri Arab termasuk Makkah. Negeri Arab tadinya bukan menyembah berhala, namun ketika Amru bin Luhay membawa berhala ke Makkah dan mengajak orang untuk menyembahnya, lambat laun masyarakat Arab akhirnya menjadi penyembah berhala.

Kita lihat tempat penyembahan Fir’aun, ada satu tiang penyangga besar yang hanya bisa dipeluk dengan membentangkan tangan oleh 13 orang. Luar biasa hebatnya mereka padahal tiang itu dibangun enam ribu tahun lalu.

Nabi Ibrahim adalah orang yang menolak keras berbagai macam bentuk penyembahan berhala. Lalu Beliau diperintahkan untuk berhijrah. Selain karena Allah Ta’ala ingin menguji keimanan beliau, juga karena untuk menghindari kemusyrikan yang merajalela di negeri tempatnya tinggal (Iraq) tersebut, mengharuskan nabi Ibrahim untuk membawa Hajar dan Ismail ke sebuah wilayah tandus tak berpenghuni yang bernama Makkah, kemudian meninggalkan mereka. Hal ini dilakukan agar anaknya menjadi benar.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim: 37).

Namun apakah pikiran para orang tua terhadap anak-anaknya agar mereka menegakkan shalat? Sebaliknya, fenomena hari ini jika kita bertanya kepada mereka: untuk apa kamu hidup? apa cita-cita kamu? Rata-rata menjawab, “ingin jadi dokter, insinyur, pegawai dan sebagainya dan ujungnya adalah dunia semata. Banyak orang tua kurang memerhatikan pendidikan agama anaknya.

Karena di Iraq atau Palestina adalah tempat penyembahan berhala sehingga Ibrahim mengungsikan anaknya supaya benar. Dan inilah barangkali kenapa banyak orang membuat pesantren dan banyak orang tua menyerahkan anaknya ke pesantren supaya anak mereka tidak terpengaruh dengan lingkungan yang buruk.

Sebelum Ibrahim melanjutkan tugasnya untuk berhijrah ke Palestina, Hajar bertanya: “apakah Engkau meninggalkan kami atas perintah Allah?” Ibrahim hanya menganggukkan kepalanya, “kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”. Perhatikanlah, bagaimana pendidikan seorang suami kepada istri dan bagaimana perhatian seorang bapak kepada anaknya supaya mereka menegakkan shalat.

Lalu apa yang terjadi dengan Ismail? Setelah sekian lama, Ibrahim kembali menemui Ismail yang telah cukup umur, dan belum berlangsung waktu lama, Allah Ta’ala kembali memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail ‘alaihissalam.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash Shaffaat: 102).

Namun akhirnya Allah Ta’ala mengganti Ismail dengan domba.

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya)”. Dan kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”  (Ash Shaffat: 103-107).  

آلهة jama’ dari إله bentuknya bisa أصنام = patung, arca, baik yang menempel atau yang bentuknya utuh, dan tidak jarang juga yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al Jatsiyah: 23).

Maknanya hawa nafsunya lah yang diikuti. Sehingga ia mengalahkan perintah Allah, melanggar larangan Allah karena Allah Ta’ala tidak menancap di dalam dirinya. Perhatikanlah orang yang mengikuti hawa nafsunya, ketika mendengar adzan harusnya ia memenuhi panggilan tersebut, namun ia masih terlelap dalam tidurnya. Berapa banyak orang yang hanya ingin memuaskan nafsunya dengan berzina, dan berapa banyak orang yang mendapatkan kesempatan untuk menjabat namun karena mengikuti hawa, ia menyelewengkan kekuasaan yang diberikan padanya dengan korupsi dan sebagainya.

2. Menolak segala bentuk hukum yang tidak sesuai dengan hukum Allah

Seorang sahabat yang tadinya mantan tokoh Kristen yaitu Adi bin Hatim datang kepada Rasulullah dan pada saat itu dilehernya masih tergantung kalung salib. Maka Rasulullah bersabda kepadanya: “Buanglah berhala ini”! Maka ia pun membuangnya. Dia (Adi bin Hatim) mengisahkan: “Ketika itu aku mendengar Rasulullah membacakan ayat:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb-Rabb selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam;” (At-Taubah: 31).

…maka aku berkata: “wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (orang-orang nashrani itu) tidaklah menyembah para pendetanya”! Beliau bersabda:

بلى، إنهم حرموا عليهم الحلال، وأحلوا لهم الحرام، فاتبعوهم، فذلك عبادتهم إياهم

“Iya memang benar, akan tetapi bukankah mereka (para pendeta itu) mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram untuk para pengikutnya? Kemudian para pengikutnya mengikuti mereka. Itulah bentuk ibadah (penyembahan) mereka kepada para pendeta mereka.” (HR.Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Jarir dari jalur Adi bin hatim).

Sekarang kita lihat, berapa banyak produk hukum yang dibuat anggota DPR menyalahi syariat Allah? Dan kalau kita mengikutinya, berarti kita terkena peringatan hadits di atas yang menuhankan para pendeta dengan mentaati mereka, disebabkan mereka menghalalkan yang diharamkan Allah dan mengharamkan yang dihalalkan Allah Ta’ala. Makanya posisi politik yang paling berat adalah anggota DPR. Kalau mereka sadar jika membuat satu aturan yang bertentangan dengan syariat Allah berarti mereka sama dengan tuhan.

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?.” (Asy Syura: 21).

Suatu kali penulis menyampaikan hal ini pada suatu masjid, seorang jenderal protes: “Kenapa ustadz menyampaikan hal ini di masjid, mengapa tidak di DPR?” “Kalau saya menyampaikan di DPR belum apa-apa sudah ditangkap, dan tugas kita hanya mengingatkan dan menyampaikan,” jawab penulis.

Karenanya, jika ada saudara atau teman kita menjadi anggota DPR hendaknya mengingatkannya agar jangan bersikap seperti Tuhan, membuat aturan hukum yang bertentangan dengan hukum Allah. Dan kalau kita sendiri yang menjadi anggota DPR melihat ada suatu bagian undang-undang atau aturan yang bertentangan dengan hukum Allah, maka kita harus ajukan agar direvisi. Karena ini merupakan proses dakwah yang harus kita lakukan. Seperti halnya aturan zina, jika dilakukan suka sama suka maka tidak akan terkena hukuman, padahal hal ini bertentangan dengan syari’at. Begitu juga aturan-aturan lain yang bertentangan dengan syari’at Islam.

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (An Nur: 51).

3.  Menjadikan tandingan-tandingan untuk Allah

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Al Baqarah: 165).

Bentuk penuhanan yang ketiga adalah kecintaan. Mencintai sesuatu atau seseorang sama bahkan melebihi cintanya kepada Allah. Artinya dia menuhankan sesuatu atau seseorang tersebut. Misalnya seorang suami yang berkata kepada istrinya: “Mama, hidup dan matiku hanya untuk kamu..”. Perkataan seperti ini adalah “syirik!!”. Kenapa? Karena cintanya kepada istrinya mengalahkan cintanya kepada Allah. Begitu juga ibu yang mengatakan kepada anaknya: “kamu adalah segala-galanya untuk ibu nak..”, hati-hati itu adalah syirik! Dan berapa banyak orang mengatakan hidup dan matinya demi negara, demi perusahaan atau keluarga?! Semua itu syirik! Atau kepada sesuatu yang lain yang menyatakan bahwa cintanya sama dengan cintanya kepada Allah.

Allah Ta’ala memerintahkan:

قلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (الأنعام: 162)

“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al An’aam: 162).

Allah Ta’ala juga berfirman :

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At Taubah: 24).

Ketika Rasulullah sedang beristirahat tidur di bawah pohon, kesempatan ini dimanfaatkan orang kafir untuk mencoba membunuh Beliau. Lalu orang kafir tadi mengambil pedang Rasulullah seraya berteriak di atas badan Rasulullah: “hai Muhammad, kalau saya membunuhmu siapa yang akan membela kamu?” “Allah”, jawab Rasulullah. Orang kafir tadi gemetaran lantas Rasulullah merebut pedangnya kembali dan menghunuskan pedangnya kepada orang kafir tadi: “sekarang, siapa yang akan menolongmu?” “Ampunanmu wahai Muhammad”, jawabnya. Kemudian Rasulullah memaafkan orang kafir tadi.

Lihatlah perbedaan jawaban orang yang bertauhid dan tidak. Karenanya rasa cinta dan takut hanya boleh tertuju kepada Allah. Sebab itu kita harus berlatih. Diantaranya Rasulullah mengajarkan agar;

  1. Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selain keduanya.
  2. Jika mencintai seseorang, tidak mencintainya kecuali karena Allah.
  3. dan benci kembali kepada kekufuran seperti halnya benci bila dilempar ke neraka.

Karenanya Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ali Imran: 92

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 92).

Ketika ayat ini turun Abu Thalhah datang kepada Rasulullah seraya berkata: “Wahai Rasulullah, saya nafkahkan kebun yang paling saya cintai ini untuk Allah.”

Syaikh Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Praktekkanlah ayat ini meskipun sekali dalam seumur hidup, agar kita mempunyai perasaan bahwa Allah lebih kita cintai daripada apa yang kita miliki.”

4. Mengkufuri Thaghut

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah: 256)

Apa itu Thaghut? Thaghut berasal dari kata “طغى” yang berarti melampaui batas. Atau sesuatu yang dianggap mempunyai kekuatan sehingga diikuti, ditaati dan diibadahi, melebihi ketaatan kepada Allah. Bisa berupa penguasa, dukun, suami, istri dan sebagainya. Namun biasanya thaghut ini adalah mereka yang mempunyai kekuasaan atau sesuatu yang dibadahi selain Allah Ta’ala.

Semoga penjelasan di atas dapat diaplikasikan dan kita kuatkan dalam diri agar semuanya tertuju pada Allah Ta’ala. Karena yang paling berat dalam hidup ini adalah ikhlas untuk mencapai ridha Allah Ta’ala.

Wallahu Ta’ala a’lam…

Leave a Reply

*