Hal-Hal yang Berkaitan dengan Puasa

Pemateri : Ust. Firanda
Editor: Irfani

dilarang makanTulisan ini akan membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan fikih Ramadhan. Ketika akan datang Ramadhan, Rasulullah memberi kabar gembira kepada para sahabat dengan perkataan beliau,  “Telah datang kepada kalian Ramadhan, telah datang Ramadhan, bulan yang penuh dengan keberkahan. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, dan dibelenggulah para syaithan.” ini semua disiapkan agara lebih mudah dan lebih kondusif untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Dan diantara pelajaran yang sangat diharapkan bagi orang berpuasa adalah mendapatkan ampunan Allah Ta’ala, karenanya banyak hadits yang mengaitkan antara bulan Ramadhan dengan ampunan Allah Ta’ala, seperti hadits :

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan rasa harap untuk mendapatkan ampunan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Karena itu tatkala berpuasa hendaknya menghadirkan dalam diri kita rasa harap kepada ampunan Allah Ta’ala.

Demikian juga hadits Rasulullah lainnya yaitu, “Antara Ramadhan dan Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa diantara ke dua Ramadhan tersebut.”

Karenanya barang siapa yang mendapati bulan Ramadhan dan ternyata ia tidak diampuni Allah Ta’ala, maka orang ini adalah orang yang celaka, orang yang tidak tahu diri, yang tidak bisa memanfaatkan bulan Ramadhan.

Setelah kita mengetahui betapa besar keutamaan bulan Ramadhan, bulan ampunan dan rahmat, bulan keberkahan, bulan kasih saying. Bahkan Rasulullah pernah mengabarkan bahwa sesunguhnya pada tiap malam Ramadhan ada orang-orang yang dicatat Allah Ta’ala terbebas dari neraka jahannam. Permasalahannya adalah, ternyata tidak semua orang yang berpuasa mendapatkan janji Allah Ta’ala.

Rasulullah bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan selain rasa lapar dan dahaga.”

Di antara sebab tidak mendapatkan janji Allah Ta’ala menurut para ulama’ adalah ketika seseorang berpuasa, dia tidak meninggalkan kemaksiatan, tetap melakukan hal yang diharamkan Allah Ta’ala, atau ia tidak menjalankan puasa sesuai dengan hukum-hukum syar’i.

Di antara Hukum-Hukum yang Terkait dengan Puasa

  1. Berniat untuk puasa pada malam hari. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tidak dikatakan orang itu berpuasa melainkan ia berniat puasa sejak di malam hari”. Jadi seorang yang di malam harinya tidak berniat puasa, maka puasanya tidak sah, minimal sebelum tidur ia harus berniat untuk puasa esok harinya. Berbeda dengan puasa sunnah, seseorang diperbolehkan berniat puasa pada esok harinya.
  2.  Sahur sebelum waktu subuh. Sahur boleh dilakukan sampai sebelum dikumandangkan adzan subuh. Selama belum dikumandangkan adzan subuh, maka seseorang diperbolehkan makan, minum dan masih boleh berhubungan dengan suami atau istrinya.

“…..dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam…” (QS. Al Baqarah: 187).

Berkaitan dengan imsak yang artinya adalah berhenti. Padahal yang benar imsak itu tidak ada. Kalaupun ada imsak, berarti ada sekitar 10 menit yang masih diperbolehkan untuk makan, minum dan berhubungan suami istri. Maksud imsak adalah untuk berhati-hati.

Oleh karena itu Ibnu Hajar Al ‘Asqalany dalam kitabnya Fathul Bari, salah seorang ulama’ dari madzhab Syafi’iyyah, beliau mengingkari adanya waktu imsak. Beliau mengatakan, “di zaman dahulu sebelum dikumandangkan adzan, orangorang menyalakan lampu untuk menandakan agar masyarakat berhenti makan dan minum, dan ini tidak dibenarkan.” Allah Ta’ala memberi kelapangan untuk makan dan minum sampai 1 detik sebelum adzan. Tetapi kalau adzan telah berkumandang maka harus berhenti. Barangsiapa yang masih meneruskan makan dan minumnya maka puasanya tidak sah.

Namun kalau ada seorang yang sahur dan tiba-tiba terdengar suara adzan, maka rukhshah yang diberikan syari’at hanya untuk minum saja lalu berhenti. Karena terkadang ada sebagian orang yang terlambat bangun, atau bangun kemudian langsung makan dan tidak memperhatikan jam, sehingga dia menyangka waktu adzan masih lama dan lain sebagainya. Sahur hukumnya adalah sunnah muakkadah, bukan wajib.

Terkait dengan niat, maka tidak didapatkan riwayat dari Rasulullah atau dari para sahabat untuk melafadzkan niat, baik untuk shalat ataupun puasa, maupun ibadah-ibadah lainnya. Jumhur ulama’ dan madzhab-madzhab lain mengatakan tidak ada pelafadzan niat ketika hendak beribadah kecuali madzhab syafi’i. madzhab Syafi’i terbagi menjadi 2 pendapat; sebagian mengingkari adanya pelafadzan niat dan sebagian meyakini pelafadzan niat. Namun Imam Syafi’I sendiri tidak pernah menyatakan demkian. Memang ada riwayat bahwa beliau pernah mengatakan shalat itu tidak sah kecuali dengan ucapan. Tetapi ternyata maksud dari ucapan beliau tersebut adalah takbiratul ihram, bukan ucapan niat. Karena itu, di dalam kitab Al-Umm tidak ada ajaran Imam Syafi’i yang mengajarkan untuk melafadzkan niat. Bahkan kalaupun imam Syafi’I berpendapat untuk melafadzkan niat, kita lebih memilih petunjuk Rasulullah karena beliau adalah teladan kita. Jadi, kita tidak perlu ramai-ramai untuk melafadzkan niat.

Kemudian bagaimana dengan sebagian negara yang siangnya hingga 20 jam, atau bahkan siangnya 6 bulan dan malamnya 6 bulan, atau lain sebagainya?

Para ulama’ menjelaskan; kalau masih bisa dibedakan antara siang dan malamnya maka dia wajib untuk berpuasa. Ada suatu daerah yang siangnya 21 jam, apakah penduduknya wajib berpuasa? Penduduknya tetap diwajibkan puasa, tetapi jika ternyata puasanya mengantarnya pada kebinasaan maka dia wajib untuk berbuka. Jika suatu saat dia mampu pindah ke satu tempat untuk mengqadha’ puasanya di bulan yang lain, maka lebih baik baginya. Jika tidak bisa dan tetap tinggal di daerah tersebut dan setiap hari siangnya 21 jam, maka dia dihukumi seperti orang yang tidak mampu, dan dikenakan membayar fidyah. Jadi Islam mempunyai solusinya. Karena puasa bukan bertujuan untuk membunuh seseorang, tapi untuk mendidik. Namun jika penduduk di daerah tersebut mampu berpuasa, maka mereka wajib puasa.

Lalu bagaimana dengan puasanya orang yang tinggal di daerah dengan siangnya selama 6 bulan, dan malamnya 6 bulan? Para ulama’ menjelaskan untuk memperkirakan waktu sahur dan berbukanya.

Rasulullah pernah bercerita, akan datang di akhir zaman Dajjal, seorang yang mengaku sebagai tuhan yang Allah berikan sebagian mukjizat kepada Dajjal untuk menguji manusia. Apabila ia mengatakan kepada langit untuk menurunkan hujan, maka hujan pun akan turun, dan jika ia berkata kepada tanah yang gersang maka tumbuh-tumbuhan akan tumbuh. Oleh karena itu, umat Islam disunnahkan dalam tasyahhud untuk berlindung dari fitnah dajjal, karena Dajjal-Dajjal kecil sudah mulali bermunculan. Paranormal, dukun-dukun yang terkadang mengeluarkan suatu kesaktian telah membuat banyak orang tertipu. Maka bagaimana kalau muncul Dajjal yang super dahsyat?! Tentunya ini adalah ujian yang sangat berat.

Kemudian Rasulullah menjelaskan saat Dajjal muncul sebelum hari kiamat, akan ada satu hari yang Allah jadikan seperti 1 tahun, ada 1 hari seperti 1 bulan dan 1 hari seperti 1 minggu lamanya, dan ada pula hari-hari lain sebagaimana hari-hari biasanya. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimana cara kita shalat?” Rasulullah menjawab, “Perkirakanlah waktu shalat kalian.”

Kemudian apabila ada seorang musafir, misalnya ia naik pesawat lalu di atas pesawat ia melihat matahari telah tenggelam, apakah ia boleh berbuka? Ya dia diperbolehkan untuk berbuka. Lalu sekarang dia akan mendarat di bandara Cengkareng tapi masih di atas pesawat, dan dia tahu jadwal berbuka di jakarta misalnya jam 6 kurang 10, setelah ia melihat jam, ternyata menunjukkan pukul 6 lewat 10 namun matahari masih kelihatan, bolehkah dia berbuka? Ia tidak boleh berbuka meskipun orang-orang yang ada di bandara dan dibawah telah berbuka puasa.

Jadi terbitnya fajar dan waktunya berbuka patokannya adalah dimana ia berada. Tapi terkadang seorang kapten pilot  mengumumkan bahwa waktu berbuka telah tiba, padahal matahari masih kelihatan. Akhirnya para penumpang berbuka padahal bukan itu patokannya, meskipun orang-orang di bawah telah berbuka. Kemudian jika ada seorang yang tinggal di gedung tingkat seratus, namun ia melihat matahari belum tenggelam, maka ia tidak boleh berbuka, meskipun orang yang berada di lantai atas telah berbuka.

Permasalahan lain yang terjadi adalah ketika seseorang berangkat umroh di bulan Ramadhan, mereka berangkat sekitar jam 2 dari Cengkareng menuju Madinah atau Jeddah. Ternyata  kita tahu bahwa Indonesia lebih maju 4 jam dari Arab Saudi, akhirnya mereka berbuka di pesawat, padahal mereka harus menunda berbuka sampai 4 jam, karena di Arab Saudi belum waktunya berbuka. Seharusnya kalau tidak mampu meneruskan puasanya maka berbukalah, jangan dipaksakan karena orang yang bersafar boleh berbuka, tetapi gantilah di bulan lainnya, karena Islam itu memudahkan.

Setiap muslim yang berakal dan baligh ia diwajibkan untuk berpuasa. Namun untuk anak kecil dianjurkan untuk melatih mereka berpuasa agar terbiasa saat dewasa, tapi kalau mereka ingin minum jangan dilarang, sesuaikanlah dengan situasi dan kondisi mereka, baik dari umur atau kemampuannya.

Siapa Saja yang Diperbolehkan Berbuka di Bulan Ramadhan?

  1. Seorang yang sakit yang dikhawatirkan bisa memberikan madharat kepadanya kalau dia berpuasa, maka orang seperti ini berbuka lebih utama baginya. Sakit di sini tentunya bukan sembarang sakit. Yang dimaksud adalah sakit yang jika dengan berpuasa penyakitnya akan semakin bertambah parah atau menunda kesembuhan, jika ternyata tidak masalah dengan ia berpuasa maka ia tetap wajib berpuasa.
  2. Orang yang safar (dalam perjalanan)

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185).

Secara umum, orang yang bersafar dibolehkan berbuka, apakah ia safar dalam kepayahan atau kemudahan. Tentunya safar pada zaman sekarang berbeda dengan safar pada zaman dahulu. Meskipun demikian safar tetaplah potongan dari pada siksaan.

Kemudian mana yang lebih utama, berbuka atau berpuasa bagi orang yang bersafar?

Syaikh Utsaimin rahimahullahu membagi orang bersafar dalam  3 kondisi, yaitu:

  • Merasa ringan dengan berpuasa meskipun safar, tidak merasa kepayahan dalam safar sambil berpuasa, maka lebih afdhal baginya untuk berpuasa. Karena Rasulullah pernah berpuasa dalam safar, lalu ia lebih cepat lepas tanggung jawabnya, jika ia berpuasa, maka ia puasa pada zaman yang mulia yaitu bulan Ramadhan.
  • Berpuasa namun ia merasa lebih enak kalau berbuka, karena merasakan sedikit kepayahan, maka lebih afdhal baginya berbuka.
  • Orang yang sangat kepayahan dalam safar maka ia harus berbuka dan haram hukumnya untuk puasa. Suatu ketika Rasulullah bersafar dalam keadaan payah, kemudian memerintahkan para sahabat untuk berbuka, namun ada di antara sahabat yang bersikeras untuk meneruskan puasanya, maka Rasulullah bersabda, “Mereka adalah pelaku maksiat, mereka adalah pelaku maksiat.” Dalam hadits lain disebutkan, “Bukan merupakan kebaikan orang yang berpuasa dalam keadaan safar.” Janganlah mengatakan “saya ingin cari pahala.” Jadi dalam Islam, tidak ada kaidah semakin payah puasanya maka pahalanya semakin besar.

Kapan seorang suami dan istri boleh berhubungan badan pada siang hari di bulan Ramadhan? Saat keduanya sakit atau sama-sama dalam perjalanan, atau salah satu dari keduanya sakit dan dalam perjalanan. Lebih tepatnya adalah ketika suami pulang dari safar dan istrinya baru suci dari haidh.

Terkait dengan sakit, ada sakit yang sulit untuk dihilangkan atau disembuhkan dan sakit yang bisa diharapkan sembuh. Seperti; orang yang sakit panas, atau pusing-pusing pada bulan Ramadhan atau terkena malaria maka wajib baginya mengqadha’ puasa pada bulan-bulan yang lain. Adapun sakit yang sulit untuk disembuhkan, artinya secara medis sulit untuk hilang pada bulan-bulan yang lain, seperti sakit ginjal, disebabkan ia harus cuci darah dan sebagainya, maka orang seperti ini dihukumi seperti orang tua yang udzurnya tidak hilang.

Secara umum udzur terbagi dua:

  1. Udzur yang bisa hilang dan tidak tetap. Seperti orang safar, atau penyakit yang bisa diharapkan sembuh. Maka harus mengqadha’ puasa pada bulan yang lain.
  2. Udzur tetap dan tidak bisa hilang. Seperti usia tua, penyakit yang sulit untuk bisa sembuh dalam waktu cepat. Maka ia harus membayar fidyah, yaitu setengah sha’ (ukuran volume pada zaman nabi). Kemudian setelah diteliti para ulama’ setengah sha’ adalah kurang lebih 1,5 kg. Caranya bisa dengan memberikan bahan makanan pokok seukuran setengah sha’ yaitu 1,5 kg beras kepada orang miskin untuk satu hari seseorang tidak berpuasa. Atau dengan menghidangkan makanan yang sudah siap, 1 kali makan kepada seorang miskin dikalikan berapa hari seseorang tidak berpuasa.
  •  Haidh dan nifas secara logika keduanya bisa hilang, maka harus diqadha’ pada bulan yang lain. Namun kalau wanita hamil dan menyusui, ada perbedaan pendapat di antara para ulama’. Ada yang berpendapat boleh dengan membayar fidyah atau harus mengqadha’ puasa. Bila tidak ada hadits khusus tentang permasalahan ini, maka kita turun kepada pemahaman para sahabat. Maka kita dapati bahwa Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhum berpendapat bahwa hamil dan menyusui, dibolehkan dengan membayar fidyah. Namun mayoritas ulama’ menyatakan harus dengan qadha’, dan sebagian ulama’ berpendapat boleh dengan membayar fidyah, seperti pendapat syaikh Al Albani rahimahullahu. Meskipun secara logika yang kuat adalah dengan mengqadha’nya, namun karena ada fatwa ulama’ dan pendapat sahabat, kita boleh membayar fidyah.
  • Lelaki yang sudah tua.

Para ulama’ menyebutkan terkadang seorang harus mengqadha’ puasanya dan membayar fidyah sekaligus yaitu tatkala ia menunda-nunda qadha’ puasanya sampai datang tahun berikutnya dengan penundaan yang tanpa udzur, alias malas untuk mengqadha’. Tapi bagi yang menunda qadha’ puasa dengan alasan syar’i maka ia tidak perlu membayar fidyah. Adapun yang tidak ada udzur untuk mengqadha’ puasa maka ia harus qadha’ membayar fidyah. Hal ini biasanya terjadi pada musafir, orang yang sakit, haidh dan nifas.

Perkara-Perkara yang Membatalkan Puasa

….”Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 187)

Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan 3 perkara:

  • Dibolehkan berhubungan suami istri sampai terbit fajar pada malam bulan Ramadhan. Tinggal kita sesuaikan dengan waktu adzan subuh. Dibolehkan bagi seorang laki-laki dan perempuan ketika adzan subuh dalam keadaan junub dan puasanya sah. Karena secara logika mereka dibolehkan berhubungan suami istri sampai adzan subuh. Dan hal ini pernah terjadi pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dikumandangkan adzan subuh beliau dalam keadaan junub karena berhubungan dengan istrinya.

Dahulu ada seorang sahabat datang menemui Rasulullah seraya berkata, “Binasa saya, binasa saya,” Rasulullah bertanya, “Apa yang membuat kamu binasa?” “Saya telah mencampuri istri saya pada siang hari bulan Ramadhan,” jawabnya. Lalu Rasulullah bersabda, “Apakah kamu mampu membebaskan seorang budak?” “Tidak, wahai Rasulullah”. “Lalu Apakah kamu mampu membayar kaffarah dengan puasa 2 bulan berturut-turut tanpa ada bolongnya?” “Tidak, wahai Rasulullah”. “Kemudian apakah kamu mampu memberi makan 60 orang fakir miskin? “Saya tidak mampu wahai Rasulullah”. Rasulullah terdiam sesaat, kemudian tiba-tiba ada sahabat lain yang datang membawa 2 keranjang kurma untuk dihadiahkan kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah memberikan makanan itu kepada sahabat tadi untuk membayar kaffarah. Apakah makanan ini saya berikan kepada orang yang lebih miskin dari saya? Tanya sahabat tadi. Wahai  Rasulullah tidak ada sahabat yang lebih miskin dari saya. Akhirnya makanannya untuk sahabat tadi sendiri.

Ketahuilah bahwa berhubungan suami istri di siang hari bulan Ramadhan adalah dosa besar dan harus membayar kaffarah.

  • Dibolehkan makan dan minum sampai terbit fajar. Dan sebaliknya jika makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan, maka puasa seseorang telah batal. Kecuali makan atau minum dalam keadaan lupa. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa berpuasa kemudian makan dan minum karena lupa, maka hendaknya ia melanjutkan puasanya, karena Allah lah yang memberinya makan dan minum.”
  • Tidak boleh berhubungan suami istri ketika sedang beri’tikaf.

Wallahu Ta’ala ‘alam..,

 

Leave a Reply