Tafsir Surat Asy-Syams (Mengetahui Hakekat Diri Manusia)

Pemateri : Ust. DR. Ahzami Samiun Jazuli , MA,

“Sesungguhnya Al-Qur’jalanan Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Al-Isra’: 9)

Dalam surat ini, kita diberikan ilmu dari Allah Ta’ala tentang diri kita, seperti apa hakekat diri kita ini. Pengenalan diri sangat menentukan sukses dan keberhasilan manusia di dalam mengelola diri, sehingga tidak terjatuh dalam kesalahan. Surat Asy-Syams ini kita bagi menjadi beberapa isi pembahasan, tapi tema besarnya adalah hakekat diri manusia.

Pembahasan pertama adalah القسم بالمشاهد الكونية

Allah Ta’ala membuka surat ini sumpah. Allah Ta’ala bersumpah dengan pemandangan yang ada di alam raya ini. Sehingga seharusnya kita bersinergis dengan alam raya yang semuanya tunduk dan bertasbih kepada Allah Ta’ala.

“…. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” (Al-Isra’: 44)

Kita masih ingat di dalam ilmu tafsir, para ulama mengatakan, kalau Allah bersumpah dengan makhlukNya itu menunjukkan pentingnya makhluk tersebut dalam kehidupan ini, sebagaimana Allah menjadikannya hal yang dijadikan Allah untuk berssumpah dengannya. Dalam surat Asy-Syams ini Allah bersumpah dengan:

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا (١) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاهَا (٢) وَالنَّهَارِ إِذَا جَلاهَا    (٣) وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا (٤)وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا (٥)وَالأرْضِ وَمَا طَحَاهَا (٦) وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (٧) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (٨) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (٩) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (١٠)

“1. demi matahari dan cahayanya di pagi hari, 2. dan bulan apabila mengiringinya, 3. dan siang apabila menampakkannya, 4. dan malam apabila menutupinya, 5. dan langit serta pembinaannya, 6. dan bumi serta penghamparannya, 7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), 8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. 9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 10. dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 1-10)

Pertanyaannya: Apa hubungannya antara ciptaan-ciptaan Allah ini yang sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia dengan diri kita?

  1. Matahari. Matahari ketika menyinari dunia, ia tidak pilih kasih, siapapun mendapatkan sinarnya. Berarti kalau kita menjadi manusia, maka bergunalah untuk semua manusia, jangan berguna hanya untuk orang tertentu. Inilah korelasinya bahwa matahari tidak pilih-pilih. Dan seharusnya kita selaku manusia menjadi energy yang luar biasa bagi alam semesta ini. Matahari tunduk kepada Allah, dan kitapun harus tunduk juga kepada Allah.
  2. Bulan. Selalu tunduk kepada Allah di malam hari, selain manfaatnya besar juga menggambarkan indahnya alam ini. Betapa indahnya waktu malam ketika kita melihat bulan purnama, sehingga kehidupan kita harus menjadi keindahan alam ini. Begitu manusia menatap diri kita, akan melihat keindahan islam, karena kita mengamalkan ajaran islam. Sehingga seseorang, bahkan dunia terpesona dan tertarik dengan islam melalui akhlak kita. Sementara terkadang ada sebagian orang mengaku islam, tapi merusak citra islam. Ada tidak orang yang mengaku beragama islam, tapi terlibat narkoba? Ada. Dan inilah salah satu perusak citra islam.
  3. Siang. Ketika berbicara tentang siang, maka yang ada di benak kita adalah menjadikan sesuatu lebih jelas. Berarti kita selaku muslim harus jelas kepribadian dan keislaman kita, jangan mengaku muslim, tapi tidak jelas keislamannya. Sementara banyak kaum muslimin mempercayai dukun, meminta kepada kuburan dan sebagainya. Padahal seharusnya seorang muslim harus sinergi dengan siang yang memberikan kejelasan. Karena kaum muslimin itu jelas, tidak membingungkan, selalu jelas akidah, ibadah dan muamalahnya.
  4. Langit dan bumi. Langit menggambarkan luas. Berarti luas kebaikan yang kita lakukan, harus diupayakan seluas langit yang kita saksikan. Makanya kaum muslimin itu harus banyak melakukan kebaikan, khususnya bagi mereka yang telah pergi haji.

Manusia tidak boleh bersumpah dengan makhluk, manusia hanya boleh bersumpah dengan nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena pengagungan hanya ditujukan kepada Allah.

Pembahasan Kedua: Kaidah Islam Yang Berkaitan Dengan Diri Kita (قاعدة الإسلام النفسية)

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Asy-Syams: 7-8)

Jadi, setiap diri manusia memiliki dua potensi; potensi untuk berbuat buruk dan potensi berbuat baik atau bertakwa kepada Allah. Lalu kenapa Allah Ta’ala mendahulukan potensi berbuat buruk? Para ahli tafsir menyatakan bahwa seseorang tidak mengetahui dalamnya ilmu tafsir, kalau ia tidak memahami rahasia mendahulukan dan mengakhirkan. Ketika Allah Ta’ala mendahulukan potensi untuk berbuat keburukan, maka kita harus waspada, jangan-jangan kebanyakan manusia lebih cenderung kepada keburukan.

Semangat mana mendapatkan gaji 10 juta halal, dengan korupsi 500 juta yang haram? Inilah yang harus kita waspadai. Jangan sampai kita menjadi orang seperti itu. Dalam surat Fathir ayat 32, ketika Allah Ta’ala menyebut macam-macam manusia yang menerima alquran, Allah Ta’ala menyebutkan macam yang pertama adalah mereka yang derajatnya rendah.

“Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan[1] dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)

[1] yang dimaksud dengan orang yang menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya, dan pertengahan ialah orang-orang yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang-orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan.

Inilah salah satu bukti bahwasanya mendahulukan dan mengakhirkan itu, ada rahasianya. Bagaimana agar jiwa kita selalu cenderung kepada kebaikan? Sementara kita punya potensi yang membawa kepada keburukan. Maka jawabannya adalah dengan Tazkiyatun Nafs (Mensucikan Jiwa).

Karenanya ayat selanjutnya berbunyi:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (٩) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (١٠)

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”.  (Asy-Syams: 9)

Jadi, diri ini harus dibersihkan dari penyakit hati; sombong, dengki, iri, ujub, berprasangka buruk dan sebagainya. Dibersihkan rumah tangganya dari barang-barang haram, makanan haram, alat-alat musik yang menjadikan diri lupa kepada Allah, dari gambar yang haram, patung dan sebagainya, agar diri kita selalu condong kepada kebaikan. Disucikanlah diri kita ditempat mana saja kita berada, baik di kantor, mall, jalan, perpustakaan, dan tempat-tempat lainnya.

Sebaliknya merugilah orang yang mengotori jiwanya. Allah Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 10)

Jika yang menyatakan rugi adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka rugi tersebut pasti benar dan kerugian itu pasti besar. Rugilah orang yang mengotori jiwanya dengan syirik, bid’ah, kesombongan, ujub, dendam, barang yang haram, ghibah, zina, narkoba, maka mereka adalah orang rugi serugi-ruginya. Makanya diantara proses penyucian jiwa adalah dengan mendatangi kajian-kajian ilmu.

“Perbaharuilah keimanan kalian”.

Pembahasan Ketiga Adalah ((حقائق النفس الإنسانية Beberapa Kenyataan Jiwa Manusia.

  1. a.       الإرتفاع لقيمة الإنسان

Ketika jiwa seseorang suci, sehingga cenderung kepada kebaikan dan mudah untuk melakukan amal shalih. Maka orang yang seperti ini, memiliki kedudukan yang tinggi. Bahkan ada manusia yang kedudukannya mengalahkan malaikat, dialah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ketika dalam peristiwa isra’ dan mi’raj, pada awalnya beliau ditemani oleh Malaikat Jibril hingga sampai sidratul muntaha menghadap Allah Ta’ala untuk menerima perintah shalat lima waktu. Ketika Rasulullah menerima kewajiban tersebut secara langsung sendirian, tidak ditemani lagi oleh Malaikat Jibril, maka hal itu menggambarkan bahwa kedudukan Rasulullah lebih tinggi. Jadi, tingkat ketinggian martabat seseorang ditentukan dari sejauh mana seseorang mensucikan diri. Jadi seluruh ibadah kita harus melahirkan tazkiyatun nafs, tidak sekedar menggugurkan kewajiban.  (‘Abasa: 3-4 )

  1. b.      Setiap manusia akan menanggung beban perbuatannya masing-masing. (حمل الإنسان مسؤولية البشري)

Jadi kalau seseorang di dunia berani mengotori jiwanya, sehingga banyak berbuat maksiat, meninggalkan kewajiban untuk membantu saudaranya yang di dzalimi, mudah untuk minum minuman keras, mudah berbuat zina, maka ia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri di akherat. Dan ini penting kita ketahui, supaya diantara kita tidak ada asumsi lagi bahwa surga itu bisa nebeng.  Di dalam al-Quran, dikumpulkannya keluarga di akherat hanya bila semuanya shalih.

“Yaitu surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Ar-Ra’d: 23-24)

  1. c.       حاجة الإنسان دائما إلى ميزان الله (kebutuhan manusia selamanya kepada timbangan Allah)

Kita harus sadari bahwa kita sebagai manusia tidak bisa lepas dari timbangan Allah. Karena kita akan letih jika mengikuti timbangan dan tolak ukur selera manusia. Setelah Allah Ta’ala memberikan petunjuk bahwa diri manusia diberikan potensi buruk dan baik, maka kita harus selalu mengikuti timbangan Allah untuk selalu membersihkan jiwa. Sehingga kita mengetahui mana jiwa yang buruk dan mana jiwa yang baik. Karena ridha manusia adalah ujung yang tiada maknanya, kalau diikuti hanya membuat letih. Seperti kisah berikut:

Seorang ayah dan anak akan pergi bersama keledainya. Sang ayah menunggangi keledainya dan menyuruh sang anak berjalan di belakangnya. Ketika melewati sekelompok wanita, orang-orang itu berkomentar,

“bagaimana sih bapak itu, apa tidak kasihan, kok malah dia yang naik dan anaknya yang masih kecil itu disuruh berjalan?”

Karena malu diolok-olok, maka ia pun turun dari keledainya dan menyuruh sang anak yang naik. Tapi tak berapa lama berjalan, lewat pula segerombolan orang tua yang duduk-duduk. Mereka berkomentar lagi:

“Wah, Bapak tua, apa kamu tidak bisa mendidik anakmu untuk menghargai orang tua? Engkau berjalan kaki sedangkan anakmu malah enak-enak naik keledai?” Mendengar komentar itu, sang ayah pun bilang pada anaknya,

“Kamu sudah mendengar kan omongan mereka barusan? Kalau begitu, mari kita naik bareng-bareng.”

Lalu mereka berdua menaikinya bersama-sama dan berjalan, tetapi di tengah perjalanan, kebetulan bertemulah mereka dengan sekelompok orang lain, kelompok pecinta binatang. Melihat pemandangan itu, mereka meneriaki sang ayah dan anak,

“Alangkah kasihannya keledai yang kurus-kering ini. Apakah kalian tidak ada rasa kasihan sedikitpun pada keledai itu? Ia kan juga mahluk Tuhan yang perlu dikasihani.”

Mendengar komentar itu, akhirnya ayah dan anak itu turun dari keledai, dan memutuskan untuk berjalan bersama-sama dan membiarkan keledainya berjalan di depan mereka. Sewaktu berjalan, mereka bertemu lagi dengan sekelompok pemuda. Mereka mentertawakan ayah dan anak tersebut,

”Alangkah bodohnya kalian…. kalian memiliki keledai, tapi kalian berpayah-payah berjalan kaki dan membiarkan keledai itu bersantai-santai. Untuk apa kalian membawa keledai?”

Dalam berislam, jika mengikuti selera manusia maka kita sendiri yang akan kelelahan. Maka diperlukanlah timbangan Allah Ta’ala untuk menentukan yang haq dan batil, yang halal dan haram. Bukan selera manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika mau mengharamkan madu, disebabkan sebagian istri beliau tidak suka beliau minum madu dirumah Zainab binti Jahsy, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegurnya:

“Hai nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (At-Tahrim: 1)

  1. d.      نموذج من خسر الإنسان (Contoh dari kerugian manusia)

 

كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا{11} إِذِ انبَعَثَ أَشْقَاهَا{12} فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا{13} فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنبِهِمْ فَسَوَّاهَا{14} وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا{15}

“(kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka. Lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya”. Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu. Maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” (Asy-Syams: 11-15)

Jadi, sifat melampaui batas akan menjadikan seseorang berani mendustakan ayat-ayat Allah. Seperti apa bentuk melampaui batasnya kaum Tsamud? Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka. Lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka: Biarkanlah unta betina Allah dan minumannya.

Di dalam ayat di atas, tidak disebutkan ciri-ciri untanya, dari mana unta tersebut, warna, berat atau lainnya. Tapi cukup satu saja yang membedakan, yaitu hanya menyandarkan kata unta dengan lafadz Allah (ناقة الله).

Unta yang seharusnya dimuliakan, tapi akhirnya mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu. Kenapa dalam ayat ini disebutkan kata jama’ (banyak) padahal yang menyembelih unta tersebut hanya satu orang? Pelajaran apa yang kita tangkap?  Yaitu ketika orang yang berbuat jahat, tapi yang lainnya diam saja membiarkan, seolah-olah yang melakukan kejahatan adalah semuanya.

عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رضي الله عنه أَنَّهُ قَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ هَذِهِ الآيَةَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ) وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ

Dari Abu Bakar Ash Shidiq Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata:  “Wahai sekalian manusia sesungguhnya kalian telah membaca firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu Telah mendapat petunjuk.” (Al-Maidah: 105). Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya apabila manusia melihat orang zalim dan mereka tidak mencegahnya dari kezaliman, maka hampi-hampir Allah akan menimpakan siksa atas mereka semua.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan lainnya)

Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman:

“Maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” (As-Syams: 14-15)

Jadi yang dikatakan berdosa bukan saja yang menyembelih unta saja, namun yang mendiamkan kemunkaran tersebut juga berdosa. Karenanya, jika kita hidup dalam masyarakat jangan sampai mendiamkan kemunkaran, karena kalau kita diamkan, kita akan ikut berdosa. Sehingga Allah akan menimpakan adzab-Nya kepada kita semua. Wal’iyadzu billahi.

Demikianlah pembahasan hakikat diri manusia, yang intinya adalah bahwa diri manusia mempunyai potensi berbuat buruk dan baik.  Agar selalu berpotensi berbuat baik, maka harus selalu mensucikan diri, dan mensucikan diri adalah tugas rasul dan tugas kita semuanya. Seperti yang disebutkan dalam surat Al-Jum’ah ayat 2, atau dalam surat Al-Baqarah ayat 151.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Jum’ah: 2)

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ {البقرة: 151}

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Al-Baqarah: 151)

Wallahu Ta’ala A’lam

 

 

  • http://www.habibasyrafy.com/ Habib Asyrafy

    Saya selalu menyukai surah Asy-Syams yang bersinar menerangi hati seperti Cahaya Dhuha bagi orang yang sedang kesusahan