Tafsir Surat al-Qashash Ayat 22-28

Pemateri: Ust. Ahmad Isrofil al-Hafidz
Editor: Ibnu Anshor

 

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاء مَدْيَنَ قَالَ عَسَى رَبِّي أَن يَهْدِيَنِي سَوَاء السَّبِيلِ{22} وَلَمَّا وَرَدَ مَاء مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاء وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ{23} فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ{24} فَجَاءتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاء قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ{25} قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ{26} قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْراً فَمِنْ عِندِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ{27} قَالَ ذَلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ أَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ وَاللَّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ {28}

22.  Dan tatkala Musa menghadap ke arah negeri Madyan ia berdo’a (lagi), “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.”

23.  Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” kedua wanita itu menjawab, “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.”

24.  Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdo’a, “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”

25.  Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata, “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata, “Janganlah kamu takut. kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.”

26.  Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”

27.  Berkatalah dia (Syu’aib), “Sesungguhnya Aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun Maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, Maka Aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang- orang yang baik.”

28.  Dia (Musa) berkata, “Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan.”

Tafsir Surat al-Qashash ayat 22-28

ilustrasi-belah-laut-merahDalam ayat sebelumnya diterangkan bahwa Musa ‘alaihissalam sebelum diangkat menjadi Nabi bertengkar dengan salah seorang Qibthy, dengan satu pukulan seorang Qibthy tersebut mati, hingga kabar tersebut didengar oleh Fir’aun. Lalu Fir’aun memerintahkan untuk memburu dan membunuh Musa. Musa pun ketakutan karena telah membunuh orang, hingga ada seseorang yang menyarankan untuk pergi ke Madyan.

Dengan berdo’a kepada Allah, “Ya Tuhanku selamatkanlah aku dari segala tipu daya orang-orang yang zalim.” Keluarlah Nabi Musa dari kota Mesir seorang diri, tiada penolong selain Allah Ta’ala, tiada kawan selain cahaya Allah dan tiada bekal kecuali bekal iman dan takwa kepada Allah Ta’ala. Penghibur satu-satunya bagi hatinya yang sedih karena meninggalkan tanah airnya ialah bahwa ia telah diselamatkan oleh Allah dari buruan kaum fir’aun yang ganas dan kejam itu.

Sebelum menuju Madyan negeri yang belum pernah didatangi, Musa berdo’a kepada Allah, “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.” Subhanallah, itulah do’a orang yang masih dalam keadaan fitrah, hatinya selalu bergantung kepada Allah. Kita selaku muslim juga diajarkan oleh Rasulullah untuk berdo’a sebelum bepergian dengan do’a, “Dengan menyebut nama Allah aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan upaya melainkan dari Allah Ta’ala.”

Setelah menjalani perjalanan, tibalah Musa di kota Madyan yaitu kota Nabi Syu’aib yang terletak di timur jazirah Sinai dan teluk Aqabah di selatan Palestina.

Nabi Musa beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang untuk menghilangkan rasa letihnya karena perjalanan yang jauh, berdiam seorang diri karena nasibnya sebagai salah seorang mantan anggota istana kerajaan yang menjadi seorang pelarian dan buruan. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi dan kepada siapa ia harus bertamu, di tempat di mana ia tidak mengenal dan dikenal orang, tiada sahabat dan saudara. Dalam keadaan demikian terlihatlah olehnya sekumpulan penggembala berdesak-desak mengelilingi sebuah sumber air untuk memberi minum hewan ternaknya masing-masing, sedang tidak jauh dari tempat sumber air itu berdiri dua orang gadis yang menantikan giliran untuk memberi minuman kepada ternakannya para pengembala lelaki itu selesai dengan tugasnya.

Musa merasa kasihan melihat dua orang gadis itu yang sedang menanti, lalu ia menghampirinya dan bertanya, “Gerangan apakah yang kamu tunggu di sini?” Kedua gadis itu menjawab, “Kami hendak mengambil air dan memberi minum ternakan kami, namun kami tidak dapat berdesakan dengan lelaki yang masih berada di situ. Kami menunggu sehingga mereka selesai memberi minum ternakan mereka. Kami harus lakukan sendiri pekerjaan ini karena ayah kami sudah lanjut usianya dan tidak dapat berdiri, tidak bisa lagi datang ke mari.” Lalu tanpa mengucapkan sepatah kata dua pun diambilkannyalah timba kedua gadis itu oleh Musa, lalu mengembalikannya kepada mereka setelah terisi air penuh sedang sekeliling sumber air itu masih padat di kelilingi para pengembala.

Ayat 23 ini menunjukkan bahwa kedua putri Nabi Syu’aib tersebut mengambil air karena ayahnya telah lanjut usia dan tidak kuat, yang sebelumnya ayah mereka lah yang selalu menimba air dan mengurusi hewan ternaknya. Berarti tidak ada ceritanya sebelum taurat turun wanita itu bercampur dengan laki-laki yang bukan mahramnya.

Setelah mengambilkan air untuk kedua gadis itu, Musa beristirahat di bawah pohon. Dalam keadaan letih dan lapar Musa berdo’a, “Ya Tuhanku aku sangat memerlukan belas kasihmu dan memerlukan kebaikan sedikit barang makanan yang Engkau turunkan kepadaku.”

Setibanya kedua gadis itu di rumah, keduanya bercerita kepada ayah mereka tentang pengalamannya dengan Nabi Musa, karena pertolongannya yang tidak diminta itu mereka dapat lebih cepat kembali ke rumah daripada biasanya. Ayah kedua gadis yang bernama Syu’aib itu tertarik dengan cerita kedua puterinya. Ia ingin berkenalan dengan orang yang baik hati dan telah memberi pertolongan tanpa diminta oleh kedua puterinya dan sekaligus menyatakan terimakasih kepadanya. Ia menyuruh salah seorang dari puterinya itu pergi memanggilkan Musa dan mengundangnya datang ke rumah.

Dengan malu-malu berjalanlah puteri Syu’aib menemui Musa dan dengan malu pula gadis itu berkata pada Musa, “Ayahku mengharapkan kedatanganmu ke rumah untuk berkenalan dengan engkau, serta memberi engkau sekadar upah atas jasamu menolong menimbakan air bagi kami dan ternakan kami.”

Musa sebagai perantau yang masih asing di negeri itu, tidak mengenal dan dikenali orang, tanpa berfikir panjang menerima undangan gadis itu dengan senang hati. Dalam tafsir Al Jalalain disebutkan bahwa Musa mengikuti gadis itu dari belakang menuju rumah ayahnya, namun di tengah perjalanan, pakaian gadis itu tersingkap oleh angin yang berhembus hingga terlihat betisnya, maka Musa meminta gadis tersebut untuk berjalan di belakangnya dan menunjukkan jalan ke rumah ayahnya yang bersedia menerimanya dengan penuh ramah-tamah, hormat dan mengucapkan terimakasihnya.

Dalam berbincang-bincang dengan Nabi Syu’aib ayah kedua gadis yang sudah lanjut usia itu, Musa mengisahkan kepadanya peristiwa yang terjadi pada dirinya di Mesir sehingga terpaksa melarikan diri dan keluar meninggalkan tanah airnya untuk mengelak dari hukuman bunuh yang telah direncanakan oleh kaum Fir’aun dan tentaranya terhadap dirinya.

Berkata Nabi Syu’aib setelah mendengar kisah tamunya, “Janganlah kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.”

Lalu berkatalah salah seorang putri itu kepada ayahnya, “wahai ayah! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”

Dari mana putri Syu’aib langsung mengetahui bahwa Musa itu kuat lagi dapat dipercaya? Karena para laki-laki yang berada di sumber air tidak akan memberikan kesempatan pada gadis untuk mengambil air sebelum mereka selesai memberi minum ternakannya. Namun karena Musa mengetahui bahwa gadis itu mengambil air karena ayahnya sudah lanjut usia, Musa mampu untuk membuat para laki-laki egois tersebut minggir sebentar guna mengambilkan air untuk ke dua putri Nabi Syu’aib. Yang kedua adalah karena Musa tidak meminta upah dari jasanya mengambilkan air.

Saran gadis itu disepakati dan diterima baik oleh ayahnya yang memang sudah menjadi pemikirannya sejak Musa tinggal bersamanya di rumah, menunjukkan sikap bergaul yang baik, perilaku yang hormat dan sopan serta tangan yang ringan untuk bekerja, suka menolong tanpa diminta.

Diajaklah Musa berunding oleh Syu’aib dan berkata kepadanya, “Wahai Musa! Aku tertarik dengan sikapmu yang santun dan cara pergaulanmu yang sopan serta akhlak dan budi perkertimu yang luhur, selama engkau berada di rumah kami, dan mengingat akan usiaku yang makin hari makin lanjut, maka aku ingin sekali mengambilmu sebagai menantu. Menikah lah engkau dengan salah seorang dari kedua putriku ini. Jika engkau menerima tawaranku ini, maka sebagai maharnya, aku minta engkau bekerja sebagai pembantu kami selama delapan tahun menguruskan peternakan kami dan soal-soal rumah tangga yang memerlukan tenagamu. Dan aku sangat berterima kasih kepadamu bila engkau secara suka rela mau menambah dua tahun di atas delapan tahun yang menjadi syarat mutlak itu. Aku tidak hendak memberatkan kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.”

Perhatikanlah permintaan putri Nabi Syu’aib yang menginginkan Musa menjadi pembantu, namun ayahnya (Nabi Syu’aib) lebih cerdas karena hendak menikahkan Musa dengan salah satu putrinya, sebagai maharnya, Musa diminta berkerja selama 8 tahun secara mutlak dan 2 tahun sebagai tambahan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi fitnah antara putrinya dengan nabi Musa, jika Musa hanya bekerja untuknya tanpa dinikahkan dengan salah seorang putrinya.

Kemudian Musa berkata, “Itulah perjanjian antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku lagi. Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan.”

Catatan,

Ada sebuah hadits tentang Nabi Musa ‘alaihissalam yang menunjukkan bahwa kedua putri Nabi Syu’aib tidak melihat kuatnya Nabi Musa dengan ototnya, karena Nabi Musa adalah seorang pemalu.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن موسى كان رجلا حييا ستيرا لا يرى من جلده شيء استحياء منه فآذاه من آذاه من بني إسرائيل فقالوا ما يستتر هذا التستر إلا من عيب بجلده إما برص وإما أدرة وإما آفة وإن الله أراد أن يبرئه مما قالوا لموسى،فخلا يوما وحده فوضع ثيابه على الحجر ثم اغتسل فلما فرغ أقبل إلى ثيابه ليأخذها وإن الحجر عدا بثوبه فأخذ موسى عصاه وطلب الحجر فجعل يقول ثوبي حجر ثوبي حجر حتى انتهى إلى ملإ من بني إسرائيل فرأوه عريانا أحسن ما خلق الله وأبرأه مما يقولون وقام الحجر فأخذ ثوبه فلبسه وطفق بالحجر ضربا بعصاه فوالله إن بالحجر لندبا من أثر ضربه ثلاثا أو أربعا أو خمسا فذلك قوله يا أيها الذين آمنوا لا تكونوا كالذين آذوا موسى فبرأه الله مما قالوا وكان عند الله وجيها (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Sesungguhnya Musa adalah seorang laki-laki yang pemalu dan menutup diri. Kulitnya tidak terlihat sedikit pun karena rasa malunya. Di kalangan Bani Israil terdapat orang-orang yang menyakitinya. “Mereka berkata, “Musa tidak tertutup seperti itu kecuali karena cacat yang ada di kulitnya, bisa penyakit sopak, bisa karena kedua buah pelirnya besar atau penyakit lainnya.” Dan sesungguhnya Allah berkehendak untuk membebaskan Musa dari segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Suatu hari Musa menyendiri. Dia melepas pakaiannya dan meletakkannya di atas sebuah batu, lalu dia mandi. Selesai mandi Musa menghampiri bajunya untuk mengambilnya dan memakainya, tetapi batu itu berlari membawa baju Musa. Maka Musa mengambil tongkatnya. Orang-orang melihat Musa telanjang dalam bentuk ciptaan Allah yang paling baik. Allah membebaskan Musa dari tuduhan yang mereka katakan. Batu itu berhenti, maka Musa mengambil bajunya dan memakainya. Musa mulai memukul batu itu dengan tongkatnya. Demi Allah, pukulan tongkat Musa meninggalkan bekas di batu itu sebanyak tiga atau empat atau lima, dan itulah firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa. Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (Al-Ahzab, 69) (HR. Bukhari)

Penjelasan hadits di atas,

Nabi Musa ‘alaihissalam sangat pemalu, dan malu adalah akhlak yang mulia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam lebih malu daripada perawan di tendanya, dan beliau memuji rasa malu dalam sabdanya, “Rasa malu itu semuanya baik.” Di kalangan Bani Israil, orang laki-laki dibolehkan mandi dengan telanjang, sebagian melihat kepada sebagian yang lain. Tetapi Musa hanya mandi sendirian, karena rasa malunya yang besar. Dia tidak mau menampakkan kulit tubuhnya dan auratnya.

Orang-orang bodoh lalu menebar gosip. Tidak ada yang selamat dari gosip orang-orang seperti ini, bahkan para Nabi dan Rasul sekalipun. Kata mereka –secara dusta lagi palsu– bahwa sebab tertutupnya Musa dari mereka adalah adanya cacat di tubuhnya yang disembunyikannya, bisa jadi kedua buah pelirnya yang besar atau penyakit kulit (sopak) yang menurut orang-orang menjijikkan atau cacat lain yang tidak ingin diketahui oleh orang lain.

Jelas, tuduhan dusta ini menyakiti Musa dan Allah tidak rela hal itu terjadi pada Rasul-Nya. Gosip busuk seperti ini bisa mengurangi kepercayaan pada orang yang diangkat oleh Allah sebagai Rasul. Seorang Rasul di mata manusia haruslah tampil sebagai contoh sempurna, tak ada yang menodainya. Tidak pada bentuk ciptaannya dan tidak pula pada perilakunya.

Allah berkehendak membebaskan Musa dari tuduhan dusta yang dialamatkan kepadanya oleh orang-orang pendusta dan bodoh. Suatu hari Musa pergi mandi sendiri seperti biasanya. Musa meletakkan bajunya di atas batu. Ketika Musa selesai mandi, dan dia ingin mengambil bajunya, batu itu terbang membawa bajunya. Padahal batu itu tidak memiliki kemampuan untuk bergerak, apalagi terbang. Batu adalah benda mati, tetapi Allah membuatnya bisa terbang dengan cara yang tidak kita ketahui demi hikmah yang diinginkan-Nya, yaitu membebaskan Musa dari gosip buruk yang ditujukan kepadanya.

Kejadian tiba-tiba ini mengejutkan Musa, maka dia berlari mengejar batu sambil memanggilnya, “Bajuku, wahai batu. Bajuku, wahai batu.” Batu itu membawa pergi pakaian Musa, sebuah pemandangan yang unik. Musa seorang Nabi yang mulia, seorang pemalu yang terhormat berlari dengan telanjang mengejar batu yang membawa bajunya. Hingga ketika batu itu sampai di permukaan Bani Israil, mereka melihat Musa yang sehat dan sempurna, tanpa cacat. Luruhlah kebohongan yang dihembuskan oleh orang-orang bodoh. Batu itu berhenti. Musa mengambil pakaiannya dan memakainya. Musa mengambil tongkatnya. Dia memukuli batu itu seperti orang yang sedang kesal dan marah terhadap seseorang yang durhaka, zhalim lagi bengal.

Musa menyadari bahwa yang dipukulnya adalah batu, tetapi ia telah melakukan suatu perbuatan yang tidak dilakukan oleh batu. Maka, Musa melakukan padanya perbuatan yang tidak dilakukan kepada batu. Musa memukulnya dengan pukulan orang yang mendidik. Yang unik adalah, tongkat Musa yang terbuat dari kayu itu bisa berbekas di batu yang keras. Terdapat bekas-bekas pukulan tongkat Musa di batu tersebut sebanyak pukulan yang diberikan oleh Musa. Biasanya tongkat kalah dengan batu, karena batu lebih keras dari kayu. Dan yang sering terjadi adalah, tongkat akan patah jika kamu memukulkannya ke batu. Akan tetapi, tongkat Musa bukan sembarang tongkat, ia diberi banyak kelebihan, dan salah satunya yaitu bisa meninggalkan bekas di batu sebanyak empat atau lima bekas pukulan.

Allah telah mengisyaratkan kejadian ini dalam kitab-Nya dengan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa. Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (Al-Ahzab, 69)

Diantara hadits-hadits terkait rasa malu;

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih yang paling utama adalah ucapan ‘La ilaaha illallah’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan, sedang malu itu (juga ) salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim)

Ibn Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Sesungguhnya di antara kalam nubuwwah (ungkapankenabian) yang disampaikan kepada manusia adalah, “Jika kamu tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu!” (HR al-Bukhari)

Wallahu Ta’ala ‘alam…